JAKARTA, KOMPAS.com - Bagi masyarakat awam, melihat sepeda motor tua dua tak dihargai setara dengan mobil baru mungkin terasa tidak masuk akal.
Namun, di lingkungan Vespa klasik, fenomena unit yang berpindah tangan dengan mahar tembus puluhan hingga ratusan juta rupiah sudah menjadi pemandangan yang lumrah.
Skuter legendaris asal Italia ini telah bergeser dari sekadar alat transportasi komuter menjadi sebuah barang koleksi yang bernilai investasi tinggi. Lantas, apa yang sebenarnya membuat harga sebuah Vespa klasik bisa melonjak begitu fantastis di pasaran?
Faktor Kelangkaan dan Nilai Sejarah
Ade Yusuf, pemilik Upscootsale, bengkel spesialis sekaligus pelaku jual-beli Vespa klasik, menjelaskan bahwa tingginya nilai ekonomis sebuah unit murni didorong oleh faktor emosional dan historis, bukan lagi sekadar fungsi mekanisnya di atas aspal.
Menurut Yusuf, tingginya harga hingga ratusan juta rupiah tersebut sangat beralasan jika melihat latar belakang serta kelangkaan dari unit yang ditawarkan.
"Setiap orang punya alasan. Dan kenapa kalau misalnya ada yang harganya ratusan, puluhan (juta)? Pertama kelangkaan. Yang kedua historical-nya. Cocok buat orang-orang idealis bukan orang realistis," ujar Yusuf kepada Kompas.com belum lama ini.
Nilai sejarah ini sangat terasa pada unit-unit yang masuk ke Indonesia sebelum dekade 1970-an karena jalur distribusinya yang masih terbatas.
Sebelum PT Dan Motor memproduksi Vespa secara lokal pada era 1970-an, seluruh unit skuter didatangkan langsung dari luar negeri melalui jalur impor perorangan maupun kedinasan pemerintah.
Deretan Seri dengan Harga Fantastis
Di galeri Upscootsale sendiri, terdapat beberapa contoh unit legendaris yang memiliki nilai jual fantastis karena faktor kelangkaan tersebut. Salah satunya adalah Vespa Kongo lansiran tahun 1963 yang dibanderol dengan harga Rp 140 juta dengan kondisi surat-surat yang lengkap.
Selain seri Kongo, Yusuf juga memiliki lini Vespa klasik bernilai tinggi lainnya, seperti Vespa VNB yang dipatok seharga Rp 100 juta.
Sementara untuk unit yang lebih umum namun tetap diburu kolektor seperti Vespa VBB dihargai Rp 50 juta, serta Vespa BBB tahun 1964 yang dijual di angka Rp 51 jutaan.
Tingginya nominal pada unit-unit ini membuktikan bahwa pasar skuter dua tak tahun tua memiliki kelas tersendiri yang harganya terus bertahan kuat dan tidak mengenal depresiasi.
Incaran Kaum Idealis dan Kolektor Kakap
Tingginya nilai sejarah dan kelangkaan ini kemudian bertemu dengan segmen pasar yang diisi oleh kaum idealis berkantong tebal. Konsumen di industri ini tidak lagi didominasi oleh pencinta skuter biasa, melainkan merambah hingga ke figur publik, pesohor, hingga pejabat negara.
Para kolektor kakap ini biasanya mencari unit untuk direstorasi total secara sempurna agar kembali ke kondisi orisinal pabrikan. Bagi kelompok ini, nominal uang ratusan juta rupiah bukan lagi menjadi kendala utama, asalkan kepuasan emosional terhadap autentisitas motor tercapai.
Yusuf menceritakan salah satu pengalamannya saat membangun unit pesanan dari seorang Jenderal Bintang 3. Konsumen idealis tersebut meminta unitnya dibangun ulang dari nol dengan mempertahankan seluruh komponen orisinalnya.
"Dia idealis. Bikin yang restorasi semua, yang bikin sesuai orinya. Dan yang satu diutamain, aman dan nyaman. Dia bilang, 'Saya enggak apa-apa kalau udah mahal.' Makanya saya bangun dari nol, A sampai Z," ucap Yusuf.
Bagi para pencinta skuter di kelas ini, pengalaman memiliki dan menikmati langsung unit langka bernilai tinggi memberikan sensasi berkendara yang tidak bisa diukur dengan materi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang