MOJOKERTO, KOMPAS.COM – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur sukses mengelola wisata.
Per tahun, pendapatan mencapai Rp 1,6 miliar.
Desa yang berada di kaki Gunung Welirang ini mengembangkan Wisata Sawah Sumber Gempong yang berdiri di lahan bengkok seluas 3,8 hektar.
Wisata ini menawarkan pemandangan Gunung Penanggungan di sisi utara, serta memiliki beberapa spot foto unik dan beberapa wahana permainan.
Di sisi lain, juga ada mata air yang bisa bisa jadi wahana renang bagi para pengunjung.
Kepala Desa Ketapanrame, Zainul Arifin menjelaskan, wisata ini menjadi salah satu dari beberapa unit usaha yang dikelola oleh BUMDes.
Zainul bercerita, awalnya lahan bengkok hanya difokuskan sebagai lahan pertanian.
Wisata kemudian dikembangkan agar lahan ini bisa mendapat penghasilan lain, tanpa harus menghilangkan pendapatan dari pertanian.
“Wisata ini ada di tanah kas desa atau biasa disebut tanah bengkok. Sebab itu, menurutnya yang paling ideal mengelola asetnya adalah BUMDes. Itu yang menyebabkan kami, aset-aset yang kurang produktif kami serahkan ke BUMDes sebagai suatu usaha agar sedikitnya bisa menambah Pendapatan Asli Desa (PADes),” papar Zainul Arifin kepada Kompas.com saat ditemui Sabtu (25/7/2026).
Dalam mengelola wisata, BUMDes juga melibatkan masyarakat lokal sebagai pegawai di obyek wisata, menjadikan mitra, hingga memfasilitasi pelaku usaha kuliner setempat.
Pendapatan Pariwisata Capai Rp 1,6 M per Tahun
Zainul Arifin menjelaskan, selain Wisata Sawah Sumber Gempong, BUMDes di Desa Ketapanrame juga mengelola wisata Taman Ghanjaran.
Selain itu juga memiliki berbagai unit usaha lain. Mulai dari air minum, persewaan kios dan kandang ternak, kebersihan lingkungan, hingga simpan pinjam dan kemitraan.
Semuanya bisa memberikan keuntungan yang ujungnya menambah PADes.
Namun, Ia mengakui, pendapatan terbesar diperoleh dari sektor pariwisata, yang mampu mencatatkan pendapatan antara Rp 1,3 miliar hingga Rp 1,6 miliar per tahun.
Harap BUMDes Rangkul Semua Elemen
Dari pendapatan sektor pariwisata itu, sebesar 20 persen masuk dalam kontribusi terhadap PADes, maksimal 25 persen untuk alokasi operasional Bumdes, lalu 40 persen untuk pengembangan aset wisata, dan 10 persen untuk dana cadangan.
Sementara 5 persen sisanya untuk kegiatan sosial di masyarakat.
“Menurut kami, BUMDes itu harus bisa hadir, berbuat dan bermanfaat. Sehingga harapannya bisa merangkul semua elemen masyarakat bersama-sama membangun usaha di Ketapanrame,” imbuh Zainul Arifin.
“Kami tekankan BUMDes jangan sampai jadi pesaing masyarakat. Kalau bisa masyarakat itu kolaborasi dengan kami,” imbuhnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang