Senat AS Loloskan Resolusi untuk Hentikan Perang Iran

Senat AS Loloskan Resolusi untuk Hentikan Perang Iran

Gedung Capitol (unsplash.com/stphnwlkr)
  • Senat AS meloloskan resolusi yang memerintahkan Presiden Trump menghentikan operasi militer di Iran dengan hasil 50 suara mendukung dan 48 menolak, termasuk empat senator Republik yang membelot.
  • Resolusi ini bersifat simbolis tanpa kekuatan hukum mengikat, namun menjadi momen bersejarah karena pertama kalinya kedua kamar Kongres menyetujui pembatasan wewenang perang sejak 1973.
  • Trump menilai resolusi tersebut tidak berguna dan tidak tepat waktu, sementara situasi di Timur Tengah masih tegang meski gencatan senjata antara AS-Israel dan Iran telah berlangsung sejak April.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Senat Amerika Serikat (AS) meloloskan resolusi yang memerintahkan Presiden Donald Trump untuk menghentikan operasi militer di Iran. Pemungutan suara digelar pada Selasa (23/6/2026) dengan hasil 50 mendukung dan 48 menolak.

Resolusi tersebut menuntut presiden mencari persetujuan Kongres sebelum mengambil tindakan militer lebih lanjut. Langkah ini diambil setelah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS menyetujui tindakan serupa pada awal Juni.

1. Empat Senator Republik mendukung resolusi

Gedung Capitol
Gedung Capitol (unsplash.com/Harold Mendoza)

Hasil pemungutan suara di kamar legislatif yang dikuasai oleh Partai Republik ini berjalan ketat. Empat senator dari kubu Republik memilih membelot dan mendukung resolusi yang diusung oleh Partai Demokrat. Keempat politikus Republik tersebut adalah Bill Cassidy, Lisa Murkowski, Susan Collins, dan Rand Paul. Sementara itu, John Fetterman menjadi satu-satunya senator Demokrat yang memilih menolak resolusi tersebut.

Kemenangan tipis resolusi antiperang ini juga dipengaruhi oleh absennya dua senator dari Partai Republik. Senator Dave McCormick dan Mitch McConnell dilaporkan tidak hadir memberikan suara. McConnell sendiri diketahui sedang menjalani perawatan di rumah sakit sejak pekan lalu. Jika kedua senator tersebut hadir dan memberikan suara menolak, posisi akhir akan menjadi imbang dan resolusi dipastikan gagal.

2. Resolusi lebih bersifat simbolis

unjuk rasa menolak perang dengan Iran pada 2020
unjuk rasa menolak perang dengan Iran pada 2020 (Anthony Crider, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Resolusi pembatasan wewenang perang ini merupakan sebuah resolusi bersama. Format ini membuat dokumen tersebut hanya menjadi bentuk ekspresi sikap politik dari pihak Kongres AS. Dokumen resolusi tidak akan dikirim ke Gedung Putih untuk ditandatangani ataupun menghadapi potensi veto presiden. Oleh karena itu, legislasi baru tersebut dinilai bersifat simbolis dan tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat.

Namun, keberhasilan pemungutan suara ini tetap mencetak sejarah baru bagi dinamika politik di AS. Peristiwa ini menjadi pertama kalinya kedua kamar Kongres meloloskan resolusi pembatasan perang sejak undang-undang tahun 1973 disahkan.

"Rakyat Amerika telah membayar harga mahal untuk kesalahan bersejarah Trump di Iran. Perang ini akan tercatat di buku sejarah sebagai kebijakan luar negeri terburuk yang pernah dilakukan AS," ujar Senator Chuck Schumer yang merupakan Pemimpin Minoritas Senat, dilansir Al Jazeera.

3. Trump sebut resolusi Senat tidak berguna

Presiden AS, Donald Trump
Presiden AS, Donald Trump ( The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Trump telah mengecam hasil pemungutan suara tersebut melalui sebuah unggahan di platform Truth Social. Menurutnya, resolusi tersebut tidak berguna dan tidak tepat waktu.

"Para Senator ini justru mempersulit pekerjaan saya, tetapi saya akan menyelesaikannya, dengan cara apa pun, karena saya selalu berhasil menyelesaikannya," tulis Trump, dilansir BBC.

Peperangan antara AS-Israel dan Iran sendiri sebenarnya telah memasuki masa gencatan senjata sejak 7 April lalu. Bahkan, kedua belah pihak telah menandatangani nota kesepahaman awal di Istana Versailles, Prancis, pada pekan sebelumnya.

Wakil Presiden JD Vance juga baru menyelesaikan perundingan tingkat tinggi di Swiss guna membahas kesepakatan nuklir baru. Namun, ketegangan di kawasan Timur Tengah masih tinggi karena AS masih mempertahankan kehadiran militernya di sana.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.