KOMPAS.com - Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) akan menjalankan 11.520 kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi permanen pascabencana di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).
Kegiatan yang akan berlangsung hingga 2028 itu membutuhkan pendanaan indikatif mencapai Rp 100,166 triliun.
Rehabilitasi dan rekonstruksi permanen merupakan implementasi dari Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera (Renduk PRRP) 2026–2028 yang disusun sebagai peta jalan pemulihan permanen di 53 kabupaten/kota terdampak.
Tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi permanen diarahkan untuk membangun kembali kawasan terdampak agar lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan melalui prinsip build back better, safer, and sustainable.
Di balik ribuan kegiatan tersebut, pemerintah menetapkan lima fokus besar yang menjadi arah pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi selama tiga tahun ke depan.
Kelima fokus tersebut mencakup pemulihan permukiman, pembangunan infrastruktur, rehabilitasi sosial, pemulihan ekonomi masyarakat, serta penguatan tata kelola lintas sektor.
Fokus pertama adalah penyediaan hunian tetap melalui 97 kegiatan dengan kebutuhan pendanaan sekitar Rp 7,57 triliun.
Program tersebut tidak hanya membangun rumah bagi masyarakat terdampak, tetapi juga memastikan lokasi hunian berada di kawasan yang lebih aman melalui pembangunan kembali di lokasi semula maupun relokasi dari wilayah berisiko tinggi.
Porsi terbesar diarahkan pada pembangunan infrastruktur melalui 1.863 kegiatan dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp 63,69 triliun.
Program tersebut meliputi rehabilitasi jalan, jembatan, jaringan irigasi, sungai, drainase, air minum, sanitasi, energi, hingga berbagai fasilitas pelayanan publik yang menjadi tulang punggung aktivitas masyarakat.
Pemerintah juga menempatkan pemulihan sosial sebagai prioritas penting melalui 6.194 kegiatan dengan kebutuhan pendanaan sekitar Rp 18,73 triliun.
Fokus pemulihan sosial meliputi layanan pendidikan dan kesehatan, perlindungan bagi kelompok rentan, dukungan psikososial, serta penguatan kohesi sosial agar proses pemulihan berlangsung lebih inklusif.
Di sektor ekonomi, sebanyak 3.026 kegiatan dengan kebutuhan sekitar Rp 9,41 triliun disiapkan untuk menghidupkan kembali mata pencaharian masyarakat melalui rehabilitasi pertanian, perikanan, perdagangan, koperasi, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), industri kecil dan menengah, pasar rakyat, serta sektor pariwisata.
Sementara itu, 341 kegiatan lintas sektor senilai Rp 764,67 miliar diarahkan untuk memperkuat penataan ruang berbasis risiko bencana, sistem peringatan dini, layanan pertanahan, penguatan data by name by address, serta sistem monitoring dan evaluasi.
Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian mengatakan bahwa keberhasilan rehabilitasi dan rekonstruksi permanen membutuhkan dukungan seluruh pihak, termasuk masyarakat.
"Kami harapkan dukungan dari semua pihak, termasuk bapak-bapak, ibu-ibu, tokoh-tokoh masyarakat di tiga daerah untuk bergerak bergotong royong,” ujar Tito dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Senin (29/6/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Tito seusai Rapat Tingkat Menteri Tim Pengarah Satgas PRR Pascabencana Sumatera di Kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Pada kesempatan itu, Tito menegaskan bahwa percepatan pembangunan infrastruktur permanen harus terus dijaga agar manfaat pemulihan segera dirasakan masyarakat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangNikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.