Rupiah Melemah ke Rp18.115 per Dolar AS, Pasar Tunggu Data Inflasi Amerika Serikat

Rupiah Melemah ke Rp18.115 per Dolar AS, Pasar Tunggu Data Inflasi Amerika Serikat

Pantau - Nilai tukar rupiah pada Selasa pagi melemah 6 poin atau 0,03 persen menjadi Rp18.115 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.109 per dolar AS, seiring pelaku pasar menanti data inflasi Amerika Serikat dan pernyataan Ketua bank sentral AS.

Data Inflasi AS Jadi Perhatian Pasar

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sikap pelaku pasar yang masih menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat serta arah kebijakan bank sentral AS.

“Saya memperkirakan rupiah bergerak terbatas di kisaran Rp18.060–Rp18.170 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp18.100–Rp18.120 per dolar AS. Biasanya masih cenderung lemah terbatas, bukan karena sentimen domestik sepenuhnya buruk, tetapi karena pasar masih menunggu data inflasi AS dan pernyataan ketua bank sentral AS pada 14 Juli,” ungkap Josua.

Ia mengatakan apabila inflasi AS lebih rendah dari perkiraan dan pernyataan bank sentral AS tidak terlalu ketat, rupiah berpeluang menguat ke kisaran Rp18.030–Rp18.080 per dolar AS.

Namun, apabila inflasi inti AS tetap tinggi atau pernyataan bank sentral AS bernada ketat, nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga kisaran Rp18.180–Rp18.220 per dolar AS.

“Ini penting karena jika inflasi inti tetap membandel, ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi lebih lama akan menguat, dolar AS kembali diminati, dan rupiah kembali tertekan,” katanya.

Harga Minyak dan Rating S&P Jadi Sentimen Pasar

Josua menjelaskan kenaikan harga minyak dunia juga menjadi faktor yang membebani rupiah setelah harga minyak Brent naik 3,43 persen secara harian menjadi 78,6 dolar AS per barel dan telah meningkat 29,2 persen sejak awal tahun.

Menurutnya, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan risiko terhadap impor energi, subsidi, inflasi, neraca transaksi berjalan, serta cadangan devisa karena Indonesia masih merupakan negara pengimpor minyak bersih.

Di sisi lain, sentimen positif datang dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan prospek stabil.

S&P menilai pelemahan fiskal dan eksternal Indonesia bersifat sementara serta masih ditopang pemulihan penerimaan negara, ekspor komoditas, dan komitmen pemerintah menjaga defisit anggaran di bawah 3 persen produk domestik bruto.

“Jadi, keputusan S&P membantu menahan tekanan, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong penguatan rupiah besar-besaran,” ungkap Josua.