5 Rumah Sakit Penuh, Keluarga Pasien di Bengkulu Ungkap Kekesalan Lewat Media Sosial

5 Rumah Sakit Penuh, Keluarga Pasien di Bengkulu Ungkap Kekesalan Lewat Media Sosial

BENGKULU, KOMPAS.com - Seorang warga Desa Renah Panjang, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, Efendi, menyatakan kekecewaannya karena lima rumah sakit yang ia datangi mengaku penuh sehingga tidak dapat dirawat maksimal.

Sesmawati, kakak ipar Efendi, dalam unggahan di media sosial mengaku adik iparnya itu mengalami sakit dengan gejala badan lemas, panas, badan memerah serta bengkak-bengkak di beberapa bagian tubuh dan sesak nafas.

"Jadi adik ipar saya sakit, kami bawa ke Kota Bengkulu harapannya mendapatkan perawatan kami memang tinggal di Kabupaten Seluma namun lebih dekat dengan Kota Bengkulu maka kami ke Kota Bengkulu," jelas Sesmawati dikonfirmasi telepon, Sabtu (1/8/2026).

Di Kota Bengkulu, pasien dibawa pertama kali ke Rumah Sakit Muhammad Yunus (RSMY), namun rumah sakit itu penuh, kemudian dengan keadaan lemas pasien dibawa ke RS Umi, RS Detasmen Kesehatan Ketentaraan (DKT), hal yang sama ditemukan.

"Alasannya rumah sakit penuh semua," tambah Sesmawati.

Tidak kehabisan harapan, keluarga membawa Efendi ke RS Rafflesia hingga Rumah Sakit Harapan dan Doa (RSHD) namun kekecewaan yang sama dihadapi.

"Lima rumah sakit itu penuh semua," jelasnya.

Akhirnya keluarga membawa pasien kembali ke Kabupaten Seluma di RSUD Tais, kemudian mendapatkan ruang perawatan.

Direktur RSHD, Lista Cherlyviera, saat dikonfirmasi membenarkan peristiwa itu di mana pasien Efendi diduga campak.

"Pasien tersebut datang sore sekitar jam 5 Sudah diperiksa dan dinyatakan harus dirawat inap selanjutnya keluarga mengurus administrasi untuk menjalani rawat inap ternyata kamar penuh. Belum sempet diedukasi keluarga marah-marah dan membawa pulang keluarganya dengan hujatan di konten viral tersebut di media sosial. Mungkin kesal karena semua rumah sakit yang dia datangi ternyata penuh," bebernya.

Ia lanjutkan, biasanya apabila pasien datang namun kamar rawat inap penuh maka pihak rumah sakit akan mencarikan ruang rawat inap di rumah sakit lain. Namun karena pihak keluarga sudah marah kemudian meninggalkan rumah sakit maka edukasi belum sempat dilakukan.

"Kami kalau ada pasien datang namun ruang rawat inap penuh maka kami akan carikan di rumah sakit lain, namun pihak keluarga sudah keburu marah dan pergi," tuturnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang