Psikolog UI Ungkap Mengapa Korban Bullying Bisa Pendam Kemarahan Bertahun-tahun, Berkaca dari Kasus MAN 3 Padang

Psikolog UI Ungkap Mengapa Korban Bullying Bisa Pendam Kemarahan Bertahun-tahun, Berkaca dari Kasus MAN 3 Padang

PADANG, KOMPAS.com - Peledakan bom rakitan yang dilakukan oleh siswa MAN 3 Kota Padang yang dikenal pendiam, merupakan bentuk akumulasi kemarahan yang mengendap bertahun-tahun akibat perundungan (bullying).

Peneliti di Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI), Wawan Kurniawan menyampaikan bahwa predikat "pendiam" pada korban perundungan sering kali bukan merupakan sifat bawaan lahir.

Sebaliknya, itu adalah respons defensif terhadap lingkungan yang menghukum.

"Anak belajar bahwa bersuara tidak akan mengubah apa pun. Masalahnya, menarik diri justru menutup saluran regulasi emosi yang sehat. Kemarahan tidak hilang, ia mengendap dan diruminasi (dipikirkan terus-menerus) bertahun-tahun," ujar Wawan saat dihubungi, Selasa (14/7/2026).

Menurut Wawan, sifat pendiam dan tindakan nekat meledakkan bom bukanlah dua hal yang berkontradiksi, melainkan dua fase dari satu lintasan psikologis yang sama.

Pada titik frustrasi tertinggi, sebuah kekerasan yang dramatis dipilih sebagai upaya patologis untuk merebut kembali kontrol diri dan visibilitasnya di mata lingkungan.

"Lewat tindakan itu, seolah pelaku ingin menyampaikan pesan, 'kalian akhirnya melihat saya,'" tutur Wawan.

Delusi Kuasa dalam Merakit Bom

Terkait anggapan bahwa merakit bom membutuhkan keterampilan dan keberanian yang tidak biasa dimiliki seorang remaja pendiam, Wawan justru membalik premis tersebut.

Bagi remaja yang sudah lama merasa tidak berdaya, proses merakit sesuatu yang berbahaya justru memberikan rasa kompetensi dan kuasa (sense of power) yang tidak ia dapatkan di dunia nyata.

"Perencanaan yang panjang bukan penghalang bagi mereka, melainkan bagian dari imbalan psikologisnya," kata Wawan.

Perundungan kronis ini, lanjut Wawan, pada akhirnya mengubah cara berpikir korban secara mendasar.

Dunia sosial dibaca sebagai lingkungan yang serba bermusuhan (hostile attribution bias).

Akibatnya, pilihan solusi di kepala pelaku menyempit menjadi biner, menyerah atau melawan habis-habisan.

Melalui mekanisme yang disebut moral disengagement (pelepasan moral), kekerasan ekstrem yang mereka lakukan akhirnya direkonstruksi di dalam kepala mereka sebagai bentuk keadilan atau pembelaan diri yang sah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang