JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Presiden ke-13 RI Ma'ruf Amin mengungkapkan harapannya jelang peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 RI.
Dia mengatakan, negara tetap harus dalam koridor kesepakatan nasional untuk melakukan pembangunan.
"Nah kalau ada sesuatu itu ya harus dilakukan perbaikan-perbaikan sesuai dengan aturan, kalau memang ada yang salah ya dibetulkan. Tapi bukan kemudian terjadi kegaduhan-kegaduhan yang tidak perlu," katanya kepada wartawan, Rabu (5/8/2026).
Ma'ruf Amin juga mengatakan, jika bangsa Indonesia ingin makmur, harus menerapkan Pasal 33 Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI) 1945.
"Bahwa semua kekayaan negara ini untuk sebesar-besar kemakmuran. Dan semua kebijakan harus berpegang pada itu ya, sehingga semua harus komitmen ya, semua harus bisa menerima," ucapnya.
Dia menekankan, jangan sampai ada kepentingan pribadi atau kelompok tertentu dalam menikmati kekayaan negara.
"Nah ini semua harus menata ulang kesepakatan-kesepakatan ini kita kembali pada kesepakatan sebagai bangsa itu," ucap Ma'ruf.
"Kalau saya berharap begitu sehingga negara ini dari hari ke hari itu terus mengalami perbaikan-perbaikan menuju cita-cita seperti proklamasi 17 Agustus 1945," tandasnya.
Ilustrasi logo HUT RI ke 81
Tema HUT ke-81 RI
Dilansir dari Kompas.com, pemerintah resmi menetapkan tema peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, yakni "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur".
Tema ini mencerminkan semangat kolektif seluruh elemen bangsa dalam mewujudkan kedaulatan yang sejati, keadilan sosial yang nyata, serta kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia.
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro dalam keterangan pers Kementerian Sekretaris Negara.
Logo karya Fajar Novario mengusung konsep "Kolektif, Sinergi, dan Bertumbuh".
Desainnya lahir dari eksplorasi mendalam terhadap keragaman motif tradisional Nusantara, di mana ditemukan kesamaan pola visual yang menjadi simbol pemersatu bangsa.
Secara visual, logo menampilkan angka "81" dengan tampilan yang tegas dan kuat. Elemen-elemen di dalamnya terinspirasi dari tiga simbol utama.
Motif perisai adat yang dirajut silang sebagai lambang kekuatan kolektif rakyat, pola bunga kapas sebagai simbol kesejahteraan, serta bentuk mata rantai yang saling terhubung untuk merepresentasikan keadilan dan sinergi antarelemen masyarakat.
Keragaman budaya, bahasa, dan adat istiadat Indonesia tidak lagi dipandang sebagai pembeda, melainkan sebagai fondasi kedaulatan rakyat untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang