Pengisi Suara Moro di Princess Mononoke, Akihiro Miwa, Meninggal Dunia

Pengisi Suara Moro di Princess Mononoke, Akihiro Miwa, Meninggal Dunia

Penyanyi dan aktor legendaris Jepang, Akihiro Miwa, yang dikenal lewat lagu ikonik Yoitomake no Uta meninggal dunia pada usia 91 tahun.

Dilansir The Japan Times, kabar duka tersebut diumumkan oleh agensi yang menaunginya. Akihiro Miwa diketahui meninggal karena faktor usia atau penyebab alami pada 20 Juni lalu.

Sesuai dengan wasiatnya, prosesi persemayaman dan pemakaman digelar secara tertutup dan hanya dihadiri keluarga dekat. Pihak keluarga juga memastikan tidak akan mengadakan upacara penghormatan publik.

Lahir dengan nama Akihiro Maruyama pada 15 Mei 1935 di Nagasaki, Miwa kemudian pindah ke Tokyo dan memulai karier profesionalnya sebagai penyanyi di Ginpari, sebuah kafe musik Prancis terkenal di kawasan Ginza, saat usianya baru menginjak 16 tahun.

Namanya mulai dikenal luas pada 1957 setelah membawakan versi bahasa Jepang dari lagu Prancis Me Que Me Que, yang ia terjemahkan sendiri dan tampilkan dengan gaya khasnya. Puncak karier musik Miwa datang melalui lagu Yoitomake no Uta yang dirilis pada 1965.

Akihiro Miwa Kurangi Aktivitasnya Sebelum Meninggal Dunia

Tak hanya sukses di dunia musik, Miwa juga memiliki karier akting yang gemilang. Ia membintangi berbagai pertunjukan teater, termasuk La Marie-Vison garapan Shuji Terayama dan Black Lizard, yang diadaptasi dari karya Ranpo Edogawa oleh sastrawan Yukio Mishima. Penampilannya menuai banyak pujian dan membawanya meraih berbagai penghargaan, termasuk pengakuan dari Yomiuri Theater Awards.

Miwa juga dikenal oleh generasi muda melalui perannya sebagai pengisi suara Witch of the Waste dalam film animasi Howl's Moving Castle karya Hayao Miyazaki. Miwa pun dikenal sebagai pengisi suara karakter Moro, sang Dewi Serigala, dalam film Princess Mononoke karya sutradara Hayao Miyazaki.

Di balik perjalanan hidupnya, Miwa merupakan salah satu penyintas bom atom Nagasaki saat berusia 10 tahun. Pengalaman tersebut membuatnya sepanjang hidup aktif menyuarakan perdamaian serta memperjuangkan masyarakat yang bebas dari diskriminasi dan prasangka.

Dalam beberapa tahun terakhir, Miwa mengurangi aktivitasnya. Menurut pihak keluarga, ucapan terakhir yang ia sampaikan adalah kalimat sederhana namun penuh makna, "Terima kasih."

Pada prosesi pemakamannya di Tokyo, altar dihiasi mawar kuning, bunga favorit Miwa. Surat-surat dari para penggemarnya juga diletakkan di dalam peti sebagai penghormatan terakhir bagi sosok seniman yang telah menginspirasi banyak generasi.