Orang Dekat Donald Trump Bongkar Kelicikan Israel di Balik Perang AS - Iran

Orang Dekat Donald Trump Bongkar Kelicikan Israel di Balik Perang AS - Iran

  • Wakil Presiden Amerika Serikat menuduh pejabat Israel memanipulasi opini publik untuk memperpanjang perang.

  • Presiden Donald Trump tetap berkomitmen menggempur Iran demi menggagalkan kepemilikan senjata nuklir.

  • Iran membalas serangan udara Amerika Serikat dengan memblokade total jalur laut Selat Hormuz.

Suara.com - Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance membongkar upaya manipulasi opini publik yang dilakukan sejumlah pejabat Israel. Langkah tersebut bertujuan memaksa Washington memperpanjang konfrontasi militer dengan Iran tanpa batas waktu.

Pernyataan ini mengungkap keretakan strategis yang mendalam antara kedua negara sekutu dekat tersebut. Washington kini mulai mewaspadai agenda tersembunyi yang dapat merugikan kepentingan domestik mereka.

Konflik ini memanas setelah Selat Hormuz ditutup total akibat aksi saling serang di kawasan. Eskalasi tersebut memaksa Gedung Putih mengambil kendali penuh atas jalur perdagangan internasional itu.

Asap mengepul akibat serangan Israel di Lebanon selatan seperti yang terlihat dari sisi perbatasan Israel pada hari Minggu di tengah gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Pasukan Israel mengumumkan bahwa mereka telah merebut kembali Punggungan Beaufort yang strategis di utara Sungai Litani. [Foto oleh Atef Safadi/EPA]
Asap mengepul akibat serangan Israel di Lebanon selatan seperti yang terlihat dari sisi perbatasan Israel pada hari Minggu di tengah gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Pasukan Israel mengumumkan bahwa mereka telah merebut kembali Punggungan Beaufort yang strategis di utara Sungai Litani. [Foto oleh Atef Safadi/EPA]

"Ada segelintir orang di sistem [pemerintahan Israel] yang kami yakini tanpa sedikit pun keraguan sedang memanipulasi dan berusaha mengubah opini publik Amerika agar perang [dengan Iran] terus berlanjut tanpa batas waktu," kata Vance.

Strategi manipulasi ini diduga memanfaatkan jaringan media dan lobi politik di dalam negeri Amerika. Tujuannya adalah menjaga keterlibatan militer Pentagon tetap tinggi di Timur Tengah.

Di sisi lain, Tel Aviv justru sedang dilingkupi kecemasan mendalam terhadap komitmen sekutunya. Intelijen mereka mencium sinyal bahwa Gedung Putih mulai ragu untuk menghancurkan fasilitas nuklir Teheran.

Kekhawatiran itu muncul karena Washington kini mengalihkan fokus utama mereka ke wilayah perairan. Fokus baru tersebut berpusat pada jaminan keamanan navigasi kapal di Selat Hormuz.

Namun, Presiden Donald Trump menegaskan komitmennya untuk tetap meluncurkan operasi militer ke Teheran. Langkah agresif ini akan diambil tanpa memedulikan tekanan ataupun pengaruh dari pihak Israel.

Donald Trump sangat memercayai bahwa Teheran sama sekali tidak boleh memiliki senjata pemusnah massal. Bagi Washington, kepemilikan teknologi nuklir oleh Iran adalah ancaman yang tidak bisa ditoleransi.

Ketegangan bersenjata di lapangan sendiri sebenarnya sudah meletus sejak awal bulan ini. Komando Pusat AS bahkan telah berulang kali meluncurkan serangan udara ke wilayah kekuasaan Iran.

Pentagon mengklaim operasi udara tersebut sebagai respons atas gangguan terhadap kapal komersial. Kapal-kapal dagang itu sebelumnya mendapat intimidasi saat melintasi jalur Selat Hormuz.

Pasukan Teheran tidak tinggal diam dan langsung melancarkan aksi balasan yang mematikan. Mereka menggempur sejumlah pangkalan militer milik Amerika Serikat di beberapa negara Timur Tengah.

Aksi saling serang yang brutal ini akhirnya memicu keputusan ekstrem dari pemerintah Iran. Teheran resmi memblokade total Selat Hormuz bagi seluruh pelayaran internasional.

Penutupan jalur laut strategis ini akan terus berlaku hingga intervensi Pentagon berakhir. Langkah ini menjadi pukulan telak bagi pasokan energi dan ekonomi global.

Merespons boikot tersebut, Donald Trump menyatakan Amerika Serikat akan bertindak sebagai penjaga kawasan. Washington juga dipastikan melanjutkan blokade ketat terhadap seluruh pelabuhan utama milik Iran.

Maunya AS - Iran Damai, Tapi Wapres JD Vance Bingung
Hadir Hingga Pelosok Negeri, Mantri BRI Bantu Wujudkan Harapan dan Kemandirian Keluarga
Jawa Tengah | Kamis, 16 Juli 2026 | 11:45 WIB
Tiga Kampus Tersandung Kasus Pelecehan Seksual, Satgas Seharusnya Tak Sekadar Formalitas
Jogja | Kamis, 16 Juli 2026 | 11:43 WIB
Ditanya soal Komisaris PTPP Aisyah Zakkiyah Keponakannya, Menteri PU Kesal: Lu Pikir Sendiri Lah!
Bisnis | Kamis, 16 Juli 2026 | 11:41 WIB
Dedikasi Tanpa Batas, Mantri BRI Jadi Penggerak Pemberdayaan Ekonomi di Sumatera Utara
Sulsel | Kamis, 16 Juli 2026 | 11:40 WIB
Argentina Terancam Sanksi FIFA Jelang Final Piala Dunia 2026, Spanduk Malvinas Jadi Sorotan
Bola | Kamis, 16 Juli 2026 | 11:39 WIB
Hadir di Gaya Hidup Masyarakat, BTN Kolaborasi dengan Burger Bangor
Bisnis | Kamis, 16 Juli 2026 | 11:38 WIB
5 Rekomendasi Serum Jerawat Lokal, Lengkap dengan Review Jujur Pembeli
Lifestyle | Kamis, 16 Juli 2026 | 11:36 WIB
Klarifikasi Menteri Dody Terkait Ratusan ASN Kementerian PU Kena Mutasi Massal
Bisnis | Kamis, 16 Juli 2026 | 11:34 WIB