JAKARTA, KOMPAS.com - Salah seorang influencer Gen Z bernama Azzahra Putri Santi (24) mendedikasikan hari-harinya untuk mendampingi anak-anak di wilayah tertinggal, terdepan, terluar (3T) agar tetap mengenyam bangku pendidikan.
Sejak tahun 2019, perempuan yang akrab disapa Wawa itu turun ke pelosok-pelosok negeri untuk memastikan sejauh mana pemerataan akses pendidikan di wilayah tersebut.
Memiliki ratusan ribu pengikut, membuat Wawa kerap kali melakukan penggalangan dana untuk memperbaiki sekolah yang kurang layak di wilayah 3T.
Pengamat Pendidikan dari Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (Kornas JPPI) Ubaid Matraji, mengapreasiasi gerakan para influencer muda yang mau terjun ke pelosok negeri untuk memperjuangkan pemerataan pendidikan.
Para influencer dinilai memiliki kelebihan utama yang terletak pada tiga hal, kecepatan, jangkauan dan kepercayaan publik.
Mereka bisa melakukan gerakan penggalangan dana hari ini dan langsung didistribusikan minggu depan untuk mendukung pendidikan anak di wilayah 3T.
Sedangkan pemerintah dan lembaga formal seringkali terjebak dalam sekat birokrasi dan regulasi yang terlalu kaku untuk mengeksekusi sebuah bantuan pendidikan.
Kondisi itu lah yang membuat pendidikan di wilayah Indonesia masih belum merata, karena untuk membenahinya pemerintah setempat harus melalui proses yang panjang dan memakan waktu lama.
Meski peran influencer dalam meratakan pendidikan di Indonesia cukup krusial, hal utama yang harus didorong masyarakat adalah perubahan dari kebijakan pemerintah agar akses pendidikan di seluruh wilayah Indonesia benar-benar merata.
"Jangan sampai anak-anak 3T hanya menjadi objek konten inspiratif, sementara ketimpangan strukturalnya tetap dibiarkan. Mereka bukan hanya butuh empati, mereka butuh keadilan pendidikan," tutur Ubaid ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (14/7/2026).
Tak hanya soal digitalisasi
Ubaid menilai, kondisi pendidikan anak di wilayah 3T Indonesia sangat lah timpang dengan di ibu kota dan sudah masuk ke level darurat.
Sebab, ketimpangannya bukan hanya terletak di sistem digitalisasi, melainkan hak-hak dasar anak.
Pengamat Pendidikan itu bilang, banyak kawasan 3T di Indonesia yang justru tidak memiliki bangunan sekolah.
Ada pula yang bangunan sekolahnya tersedia, namun tidak ada guru yang mengajarnya.
Tak heran bila sampai saat ini pemerataan pendidikan lebih terlihat dominan di Pulau Jawa.
Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.