Mengenal Arron Bryan, Desainer Muda Asal Papua Pemenang FFD 2026
KOMPAS.com - Berangkat dari Jayapura, Papua, Arron Bryan Fernaldy Wongso perlahan membangun jalannya sendiri di industri mode Indonesia.
Setelah mengantongi berbagai penghargaan semasa kuliah, desainer muda ini kini menorehkan pencapaian baru dengan meraih gelar Future Fashion Designer (FFD) 2026, kompetisi yang dirancang untuk menguji kesiapan desainer muda menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya.
Kemenangan tersebut bukan diraih melalui satu karya saja. Selama dua pekan, Arron harus melewati serangkaian tantangan yang menguji kreativitas, kemampuan teknis, hingga cara mengambil keputusan di bawah tekanan. Konsistensinya dalam setiap tahap akhirnya mengantarkannya menjadi pemenang utama.
Foto bersama para juri Future Fashion Designer 2026
Berawal dari keinginan untuk menguji kemampuan
Bagi Arron, mengikuti FFD menyimpan makna yang lebih besar dari sekadar mengejar gelar juara kompetensi bergengsi. Ia melihat kompetisi tersebut sebagai kesempatan untuk keluar dari rutinitas sekaligus mengukur kemampuan yang telah dibangunnya selama ini.
"Penghargaan-penghargaan di bidang fashion yang saya dapatkan menjadi pondasi dan modal saya untuk terus terjun dan berkembang di dunia mode. Saya percaya bahwa proses belajar dan berkembang tidak pernah berhenti," ujar Arron kepada Kompas.com
Menurutnya, FFD menjadi ruang untuk mencoba pengalaman baru, memperluas jaringan profesional, sekaligus menantang dirinya agar dapat terus berkembang dan berkontribusi bagi industri fashion Indonesia.
Lulusan Susan Budihardjo Fashion Forward Institute tahun 2025 itu memang telah mengoleksi sejumlah prestasi, mulai dari Best Student, Best Presentation, Best in Fabric Manipulation, Best Pattern & Sewing Technique, dan Juara Tim Kelana Wastra 2024.
Ia juga telah tampil di berbagai peragaan busana, seperti IN2MOTIONFEST, JF3, SPOTLIGHT, serta menjalankan praktik desain custom sejak 2022.
Melewati simulasi dunia kerja dalam 14 hari
FFD 2026 merupakan program kolaborasi JF3 dan Susan Budihardjo Fashion Forward Institute yang berlangsung pada 12-26 Mei 2026. Dari puluhan pendaftar, hanya delapan peserta yang terpilih untuk mengikuti program intensif selama 14 hari.
Dalam rentang waktu itu para peserta diminta menyelesaikan lima tantangan berbeda yang menyerupai proses kerja seorang desainer fesyen profesional, misalnya riset konsep, penyusunan anggaran, pemilihan material, pembuatan pola, produksi, styling, dan presentasi di hadapan panel juri.
Kelima tantangan tersebut meliputi Prototype, The Curve, Re'Heritage, Multifunction, dan Opposite. Masing-masing tantangan ini dirancang untuk menguji aspek yang berbeda.
Tantangan Re’Heritage contohnya, menantang peserta untuk mengangkat warisan budaya Indonesia melalui pendekatan yang lebih kontemporer dengan memanfaatkan teknik cetak digital. Untuk menambah lapisan tantangan, peserta diharuskan menggunakan motif yang orisinal, non-repetitif, dan berbeda dari cetak kain pabrikan.
Arron menyebutkan bahwa tantangan terberat selama kompetisi adalah merealisasikan desain dalam waktu yang sangat singkat.
"Tantangan terbesar yang saya hadapi selama kompetisi adalah membuat desain dan merealisasikannya dalam waktu yang singkat. Dalam waktu yang terbatas, saya harus menghasilkan karya yang tidak hanya selesai tepat waktu, rapi, tetapi juga berkesan," tutur Arron.
Karena itu, selama tantangan berlangsung ia memilih untuk tetap tenang, menyusun prioritas pekerjaan secara terstruktur, dan mengatur waktu seefisien mungkin agar kualitas karya tetap terjaga.
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat