Hubungan antara Israel dan Inggris selalu penuh dinamika. Kini Menteri Pertahanan baru Inggris, Wes Streeting tetap pada pendirian sikapnya bahwa Israel melakukan kejahatan perang di Jalur Gaza.
Sebelum ditunjuk jadi menteri, Streeting pernah melontarkan kecaman bahwa Israel melakukan kejahatan perang di jalur Gaza.
Berbicara kepada wartawan di Pameran Dirgantara Internasional Farnborough, Streeting mengatakan Israel harus dinilai dengan standar yang sama yang diterapkan pada Inggris dan sekutu-sekutunya yang lain. Namun, ia juga menegaskan bahwa Israel tetap memiliki hak untuk membela diri.
"Saya telah menyatakan dengan sangat jelas kekhawatiran saya tentang tindakan Israel di Gaza dan Tepi Barat. Komentar saya ada di sana. Komentar tersebut telah dipublikasikan. Komentar tersebut tercatat. Saya tidak akan berpura-pura bahwa saya tidak membuat komentar-komentar tersebut," kata Streeting.
Inggris Kewalahan
Di awal pembentukan negara Israel pada 1948, hubungan kedua negara ini berada di titik kritis. Itu karena Inggris yang menguasai Palestina terus menerus diganggu oleh para teroris Yahudi.
Sebelum menjadi warga Israel, komunitas Yahudi Palestina (Yishuv) telah menjadi mitra junior dekat Inggris. Dalam sebuah dokumen resmi tahun itu, pemerintah Inggris menyatakan "Rumah Nasional Yahudi", seperti yang dijanjikan dalam Deklarasi Balfour tahun 1917, sebagai kebijakan tetap.
Mereka berencana untuk mengganti pemerintahan langsung dengan pemerintahan demokratis untuk semua. Rencana ini tidak pernah terwujud karena perang dan perlawanan dari Palestina dan Zionis terhadap Inggris.
Awalnya, milisi Yahudi di Palestina, yang dikenal sebagai Haganah atau "pertahanan", berfungsi sebagai pasukan pembantu bagi polisi dan tentara Inggris.
Dinas intelijennya, yang disebut Sherut Hayediot atau Shay, telah mendukung Inggris dalam upaya perang terhadap bangsa Arab Palestina yang dipimpin oleh dua pentolan, Menachem Begin dan Yitzhak Shamir. Kedua orang ini kemudian menjadi perdana menteri setelah Israel merdeka.
Ketika pendiri Israel Ben-Gurion mengetahui dari sebuah sumber di kabinet bahwa Inggris akan mencegah para penyintas Yahudi Eropa memasuki Palestina, ia mengizinkan kelompok garis keras Yahudi beroperasi, yaitu Irgun pimpinan Begin dan Lehi pimpinan Shamir, yang oleh otoritas Inggris dikenal sebagai "Geng Stern".
Lama kelamaan, Geng Stern makin brutal. Salah satunya peristiwa pengeboman Hotel King David di Yerusalem, pada 22 Juli 1947. Pengeboman ini telah menewaskan lebih dari 90 orang, termasuk para intel dan tentara Inggris. Peristiwa oleh sejarawan John Ferris disebut sebagai tindakan yang "menyelesaikan perceraian Inggris-Zionis."
Selama 1947, tahun yang kritis, Inggris berjuang untuk mendapatkan kembali akses ini di dalam gerakan perlawanan Yahudi.
Pemerintah Inggris juga mencoba untuk membawa orang Yahudi dan Arab kembali ke meja perundingan, tetapi gagal mendapatkan partisipasi resmi dari kelompok-kelompok Yahudi.
Semenjak itu, karena melemah akibat perang dan menghadapi kekerasan dari komunitas Yahudi, menteri luar negeri Inggris, Ernest Bevin, menyerahkan konflik tersebut kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa, meninggalkan mandat Inggris.
"Negara Israel dideklarasikan pada Mei 1948. Inggris seharusnya mengawasi pembagian wilayah, termasuk persatuan ekonomi antara kedua negara, tetapi sebagian besar lepas tangan," tulis laman the Guardian.
Israel dan bangsa Arab sebagian besar dibiarkan bertikai sendiri, dan sebagai akibat dari perang tahun 1948, sekitar 750.000 orang Arab mengungsi, dari total populasi 1.500.000 jiwa.