KUPANG, KOMPAS.com – Pihak keluarga almarhumah dr Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr Icha membantah keras kabar yang beredar di media sosial yang menyebutkan dokter muda tersebut pernah melakukan percobaan bunuh diri sebelum meninggal dunia.
Paman dr. Icha, Fabianus Banase, menegaskan informasi tersebut tidak benar dan menyebutnya sebagai fitnah yang mencemarkan nama baik almarhumah.
“Kami menerima informasi mengenai beredarnya kabar yang menyebutkan dr. Icha pernah melakukan percobaan bunuh diri sebelumnya. Kami tegaskan bahwa informasi tersebut adalah fitnah keji dan berita bohong semata,” ujar Fabianus dalam keterangannya.
Upaya Pengalihan Isu
Menurut Fabianus, keluarga menduga munculnya narasi tersebut merupakan upaya untuk mengaburkan persoalan utama yang tengah menjadi perhatian publik terkait meninggalnya dr. Icha. Namun demikian, dugaan tersebut merupakan pandangan keluarga dan belum dapat dipastikan kebenarannya.
“Kami menduga ini merupakan upaya pengalihan isu yang dilakukan oleh oknum atau pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memutarbalikkan fakta dan mengaburkan tanggung jawab pihak yang sebenarnya,” katanya.
Fabianus juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai maupun menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi mengenai almarhumah.
Ia mengingatkan bahwa penyebaran informasi yang tidak benar berpotensi menyesatkan opini publik dan dapat mengganggu proses pencarian fakta dalam perkara yang sedang berjalan.
“Kami memohon kepada seluruh masyarakat untuk menahan diri dan tidak menyebarkan informasi apa pun yang belum jelas kebenarannya terkait dr. Icha. Jangan sampai kita terjebak pada narasi yang justru mengaburkan substansi persoalan dan membuat kasus ini dianggap sekadar musibah biasa,” ujarnya.
Sebagai langkah hukum, Fabianus mengaku telah melaporkan beredarnya informasi tersebut kepada Direktorat Tindak Pidana Siber Polri.
Laporan itu diajukan agar aparat dapat menelusuri pihak-pihak yang diduga menyebarkan informasi bohong sekaligus mengambil tindakan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Kami telah menindaklanjuti persoalan ini ke Siber Polri agar akun-akun penyebar berita bohong dan fitnah dapat dilacak serta diproses sesuai hukum. Kami berharap masyarakat bersama-sama menjaga kebenaran dan terus mengawal penegakan keadilan bagi dr. Icha,” tutup Fabianus.
Dugaan Intimidasi Saat Bertugas
Untuk diketahui, sebelum meninggal dunia, dr. Icha menjadi sorotan publik setelah diduga mengalami intimidasi saat bertugas di IGD RS Leona Kefamenanu ketika menangani seorang pasien anak korban gigitan ular.
Paman almarhumah, Victor Manbait, mengatakan seluruh tindakan medis yang dilakukan dr. Icha telah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit dan arahan dokter spesialis yang khusus menangani pasien yang digigit ular.
Namun, situasi disebut memanas ketika keluarga pasien meminta pemberian vaksin tertentu yang menurut pertimbangan medis belum direkomendasikan dan tidak tersedia di rumah sakit.
Victor menuturkan, dua pria yang mengaku sebagai anggota DPRD TTU kemudian mendatangi ruang pelayanan dan mempertanyakan penanganan medis dengan nada tinggi. Salah seorang di antaranya disebut sempat menunjuk wajah dr. Icha saat meminta penjelasan.