Gresik, Beritasatu.com - Kasus seorang pasien asal Pulau Bawean yang terpaksa menyewa pesawat senilai Rp 110 juta demi mendapatkan penanganan medis lanjutan menjadi alarm bagi layanan kesehatan di wilayah kepulauan. Peristiwa itu memperlihatkan betapa sistem rujukan di Bawean, Gresik, Jawa Timur, masih sangat bergantung pada kelancaran transportasi laut.
Di balik mahalnya biaya evakuasi medis tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik mengungkap persoalan yang lebih mendasar. Persediaan oksigen medis di RSUD Umar Mas'ud Bawean menipis setelah distribusi logistik kesehatan terhambat akibat cuaca buruk yang menghentikan pelayaran selama hampir sepekan.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik Setyo Susilo mengatakan tidak beroperasinya kapal penumpang maupun kapal barang pada 28 Juli hingga 4 Agustus 2026 membuat pasokan logistik kesehatan, termasuk oksigen medis, tidak dapat dikirim ke Pulau Bawean.
"Kondisi cuaca yang tidak memungkinkan menjadi kendala utama dalam distribusi logistik kesehatan ke Bawean. Selama periode 28 Juli hingga 4 Agustus kapal menuju Bawean tidak beroperasi akibat cuaca buruk sehingga pengiriman logistik kesehatan, termasuk oksigen medis, tidak dapat dilakukan," kata Setyo, Selasa (4/8/2026).
Menurut dia, Dinas Kesehatan sebenarnya telah menyiapkan tambahan 40 tabung oksigen sejak awal Agustus. Selain itu, 80 tabung lainnya juga telah disiapkan sebagai cadangan dan akan segera dikirim setelah kapal kembali beroperasi.
Pemerintah daerah juga telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Kabupaten Gresik, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), serta sejumlah pemangku kepentingan di Paciran dan Lamongan untuk mempercepat distribusi logistik kesehatan menuju Bawean.
Apabila cuaca ekstrem berlangsung lebih lama, Pemkab Gresik menyiapkan skenario alternatif dengan meminta bantuan Komando Armada II (Koarmada II) untuk mengangkut tabung oksigen ke Pulau Bawean.
Opsi distribusi melalui jalur udara juga sempat dipertimbangkan. Namun, menurut Setyo, pesawat perintis memiliki keterbatasan daya angkut, sementara pengiriman tabung oksigen harus memenuhi standar keselamatan penerbangan sehingga jalur laut masih menjadi pilihan paling memungkinkan.
"Kami berharap kondisi cuaca membaik dalam satu hingga dua hari ke depan agar distribusi dapat segera dilakukan," ujarnya.
Kasus ini menunjukkan tantangan pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan tenaga medis atau fasilitas rumah sakit. Kelancaran distribusi logistik kesehatan juga menjadi faktor penentu agar layanan tetap berjalan saat cuaca ekstrem melanda.
Sebelumnya, seorang pasien asal Desa Sungaiteluk, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, terpaksa menyewa pesawat dengan biaya sekitar Rp 110 juta untuk dirujuk ke rumah sakit di Gresik. Keputusan tersebut diambil karena kondisi pasien memerlukan penanganan lanjutan, sementara kemampuan pelayanan di RSUD Umar Mas'ud Bawean terbatas di tengah menipisnya pasokan oksigen medis.
Peristiwa itu memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan sistem rujukan kesehatan di daerah kepulauan ketika jalur transportasi utama terputus akibat cuaca buruk. Ketergantungan terhadap kapal sebagai satu-satunya jalur distribusi logistik membuat layanan kesehatan rentan terganggu setiap kali gelombang tinggi menghambat pelayaran.
Dengan kondisi geografis Bawean yang terpisah dari daratan utama Kabupaten Gresik, penguatan cadangan logistik medis, mekanisme distribusi darurat, hingga sistem evakuasi pasien menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian agar keselamatan pasien tidak kembali bergantung pada kondisi cuaca.