PROGRAM besar pemerintah tidak selalu gagal karena tujuannya buruk. Banyak program justru lahir dari niat baik: memperbaiki gizi anak, menggerakkan ekonomi desa, memperkuat koperasi, memperluas pemerataan, atau menghadirkan negara lebih dekat kepada rakyat.
Namun, tujuan baik tidak otomatis menghasilkan kebijakan yang berhasil.
Dalam administrasi publik, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh gagasan besar, tetapi juga oleh desain kelembagaan, kapasitas pelaksana, kejelasan pembiayaan, pengawasan, koordinasi, serta mekanisme koreksi ketika masalah muncul.
Program yang secara politik tampak kuat dapat menjadi rapuh ketika masuk ke dalam rantai implementasi panjang, aktor yang terlalu banyak, dan pembagian tanggung jawab yang tidak jelas.
Di sinilah jebakan program besar sering muncul. Semakin besar skala program, semakin besar pula kebutuhan akan tata kelola yang rapi.
Semakin banyak lembaga yang terlibat, semakin tinggi risiko tumpang tindih kewenangan. Semakin besar anggaran yang digerakkan, semakin kuat pula kebutuhan terhadap audit, pengendalian, dan transparansi.
Kabinet besar dapat memberi dukungan politik yang luas bagi pemerintah. Namun, kabinet besar juga membawa tantangan koordinasi.
Dalam sistem presidensial multipartai, presiden tidak hanya memimpin birokrasi, tetapi juga mengelola koalisi politik. Dukungan formal dari banyak aktor politik belum tentu otomatis berubah menjadi pelaksanaan kebijakan yang efektif di lapangan.
Dalam literatur implementasi kebijakan, Pressman dan Wildavsky melalui karya klasik Implementation: How Great Expectations in Washington Are Dashed in Oakland menunjukkan bahwa harapan besar pemerintah dapat melemah ketika masuk ke dalam rantai implementasi yang panjang dan kompleks.
Semakin banyak titik keputusan, semakin besar pula kemungkinan kebijakan melenceng dari tujuan awal.
Dengan kerangka itu, kegagalan program pemerintah sebaiknya tidak selalu dibaca sebagai kegagalan gagasan.
Kegagalan dapat lahir dari desain yang terlalu ambisius, waktu persiapan yang pendek, koordinasi yang lemah, aktor pelaksana yang tidak cukup siap, atau pengawasan yang terlambat.
Masalahnya, publik sering kali tidak membedakan antara kegagalan ide dan kegagalan implementasi. Ketika program bermasalah, yang terlihat adalah kegagalan pemerintah secara keseluruhan.
Pengalaman program Makan Bergizi Gratis memperlihatkan pentingnya desain kelembagaan dan pengawasan sejak awal.
Program ini membawa misi sosial yang kuat karena menyangkut gizi anak, pendidikan, dan masa depan sumber daya manusia.
Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.