JAKARTA, KOMPAS.com - Pengungsi asal Somalia, Sudan, dan Afghanistan telah bertahan di trotoar belakang kantor United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) di Jalan Setiabudi Selatan, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, selama beberapa bulan terakhir.
Sehari-hari, mereka beraktivitas di lokasi tersebut sejak pagi hingga malam sambil menunggu bantuan dari warga maupun UNHCR.
Salah seorang pengungsi, Jafaar (47), mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti mandi dan buang air, mereka memanfaatkan fasilitas toilet di masjid-masjid sekitar.
“Untuk buang air dan mandi kami ke masjid,” kata Jafaar saat ditemui di lokasi, Jumat (3/7/2026).
Hal serupa disampaikan Ayub (19), pengungsi yang mengaku terpaksa meninggalkan rumah kontrakannya di Ciputat karena tidak lagi mampu membayar biaya sewa.
Kini, Ayub tinggal di trotoar bersama pengungsi lainnya.
Untuk membersihkan diri, mereka berjalan ke masjid yang berada tidak jauh dari lokasi.
“Kami pergi ke masjid biasanya, di dekat sini ada,” kata Ayub saat ditemui terpisah.
Sementara untuk memenuhi kebutuhan makan, para pengungsi mengandalkan bantuan dari warga maupun petugas UNHCR.
Pengungsi asal Somalia, Fatimah (26), mengatakan, warga yang melintas terkadang memberikan makanan atau uang kepada mereka.
Sebagian pengungsi memanfaatkan uang tersebut untuk membeli makanan di pedagang kaki lima atau minimarket di sekitar lokasi.
Namun, ketika tidak ada bantuan yang datang, mereka terpaksa menahan lapar.
“Kadang kami makan sekali sehari, dua kali sehari. Kami enggak punya makanan sama uang. Kadang orang lewat mereka kasih makanan, atau air, atau uang Rp 50.000. Kami di sini aja,” ujar Fatimah.
Menurut Fatimah, persoalan yang dihadapi para pengungsi bukan hanya soal kebutuhan makan. Banyak dari mereka, terutama anak-anak, juga mengalami masalah kesehatan.
Ia mencontohkan anak temannya yang mengalami luka-luka akibat gigitan nyamuk saat malam hari.
“Tempat ini banyak nyamuk. Kalau mereka digigit nyamuk, anak-anak itu nangis,” kata dia.
Fatimah mengatakan, keterbatasan biaya membuat para pengungsi kesulitan membawa anak-anak yang sakit untuk mendapatkan penanganan medis karena mereka tidak memiliki uang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangNikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.