KEPUTUSAN Presiden ke-7 RI Joko Widodo untuk kembali melakukan safari politik atau yang populer disebut "turun gunung" telah memunculkan banyak tafsir politik.
Sebagian menilai langkah tersebut merupakan bentuk nostalgia politik pascalengser dari kekuasaan formal. Sebagian lain melihatnya sebagai upaya menjaga pengaruh menjelang Pemilu 2029.
Namun, apabila membaca dinamika ruang digital secara lebih mendalam, agenda tersebut tampaknya bukan sekadar aktivitas simbolik seorang mantan presiden.
Terdapat indikasi kuat bahwa langkah tersebut merupakan manuver politik yang dirancang secara bertahap, sistematis, dan sangat mungkin berbasis data.
Hasil monitoring digital yang dilakukan Sintesa Strategi Indonesia (SSI) bersama Datalinker selama periode 23 Mei hingga 21 Juni 2026 menemukan bahwa isu "Jokowi Turun Gunung" menjadi salah satu isu politik yang memperoleh perhatian sangat besar di ruang digital.
Dalam periode tersebut tercatat lebih dari 58 juta paparan konten dengan kata kunci "Jokowi" dan lebih dari 23,5 juta paparan dengan kata kunci "Joko Widodo".
Setelah melalui proses seleksi relevansi, klasifikasi otomatis, dan penghapusan duplikasi, diperoleh 158.761 percakapan relevan yang dianalisis dari platform X, Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, serta media online.
Sebanyak 90,6 persen percakapan berasal dari media sosial, sedangkan 9,4 persen berasal dari media online.
Dominasi media sosial ini menunjukkan bahwa arena utama pertarungan opini terkait Jokowi saat ini tidak lagi berada di media arus utama, melainkan di ruang digital yang lebih cair dan partisipatif.
Yang menarik, percakapan publik terkait isu ini cenderung didominasi sentimen positif. Analisis menunjukkan sentimen positif mencapai 43,5 persen, jauh lebih tinggi dibanding sentimen negatif yang hanya berada pada angka 18 persen. Sisanya sebesar 38,6 persen berada pada kategori netral.
Pada aspek tone atau nuansa bahasa, percakapan bernada positif mencapai 41,4 persen, sementara tone kritis berada pada angka 18,6 persen.
Bahkan dalam aspek stance atau sikap, dukungan terhadap Jokowi mencapai 43,6 persen, sedangkan sikap kontra hanya sebesar 18 persen.
Data tersebut memperlihatkan bahwa meskipun kritik terhadap Jokowi masih muncul, dukungan publik di ruang digital tetap relatif dominan.
Yang lebih menarik lagi adalah pola temporal percakapannya. Titik awal menguatnya isu "Jokowi Turun Gunung" terjadi pada 23 Mei 2026.
Pada tanggal tersebut, elite PSI mulai membocorkan rencana safari nasional Jokowi ke berbagai daerah.
Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.