Dugaan Loker Bodong di Jakbar Diselidiki Usai Pelamar Diminta Bayar Rp 2,5 Juta

Dugaan Loker Bodong di Jakbar Diselidiki Usai Pelamar Diminta Bayar Rp 2,5 Juta

JAKARTA, KOMPAS.com - Suku Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Sudin Nakertrans) Jakarta Barat menindaklanjuti dugaan penipuan berkedok lowongan kerja di sebuah ruko di Jalan Pangeran Tubagus Angke, Jelambar, Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

Kepala Sudin Nakertrans Jakarta Barat, Faradisa Saforda Basuni, mengatakan pihaknya akan menelusuri dugaan penipuan tersebut.

"Harus, kami tindaklanjuti. Nanti tunggu infonya," kata Faradisa melalui pesan singkat, Rabu (8/7/2026).

Petugas Sudin Nakertrans telah mendatangi lokasi pada Rabu pagi. Namun, perusahaan yang didatangi ternyata bukan perusahaan yang diduga melakukan penipuan.

"Yang kami masuk tadi bukan di perusahaan yang ini (yang diduga penipuan)," ucap dia.

Meski demikian, Sudin Nakertrans memastikan penelusuran akan tetap dilakukan terhadap perusahaan yang diduga meminta pelamar membayar Rp 2,5 juta dengan alasan biaya Medical Check Up (MCU) dan seragam.

"Kami akan rapatkan dulu dengan tim, besok kami tindaklanjuti kembali," ucap Faradisa.

Sebelumnya, seorang pelamar kerja bernama Jieyes Mishael Panjaitan (18) mengaku diminta membayar Rp 2,5 juta saat mengikuti proses wawancara kerja di lokasi tersebut.

Mishael, yang datang dari Purwakarta, mengatakan informasi lowongan kerja diperolehnya dari salah satu platform pencari kerja sekitar sepekan lalu.

"Enggak lama yang punya PT-nya teh nge-chat, ngajak interview. Saya ke sinilah tadi. Sempet nunggu lama, dipanggillah ke atas," katanya saat ditemui di lokasi, Selasa (7/7/2026).

Saat wawancara untuk posisi operator gudang, Mishael diminta membayar Rp 2,5 juta yang disebut sebagai biaya awal, termasuk untuk Medical Check Up (MCU) dan seragam kerja.

"Habis itu teh ditransferlah sama abang ipar saya Rp 2,5 juta. Habis itu difotoin sama bikin surat perjanjian. Tapi enggak boleh dibaca. Jadi kayak enggak dipaksa buat enggak baca sih, tapi kayak diburu-buru teh," ungkapnya.

Setelah pembayaran dilakukan dan surat perjanjian ditandatangani, Mishael mengaku tidak langsung menjalani MCU maupun menerima seragam. Ia justru diminta pulang tanpa mendapat kepastian kapan mulai bekerja.

"Ya pas pulang teh, ada janggal, katanya mau ngecek kesehatan sama ngambil seragam, tapi enggak dikasih apa-apa. Malah disuruh pulang," tuturnya.

Kompas.com kemudian mendatangi ruko yang menjadi lokasi wawancara tersebut untuk meminta konfirmasi terkait dugaan penipuan.

Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS

Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.