Dompet Terkuras hingga Nyawa Nyaris Hilang, Cerita Gen Z Tak Pernah Kapok Mendaki Gunung

Dompet Terkuras hingga Nyawa Nyaris Hilang, Cerita Gen Z Tak Pernah Kapok Mendaki Gunung

JAKARTA, KOMPAS.com - Kaki gemetar, napas tersengal, dompet terkuras, hingga nyawa nyaris melayang merupakan risiko yang harus ditanggung ketika para Gen Z menjalani hobi mendaki gunung.

Mendaki gunung bukan lagi dianggap sekadar hiburan semata, melainkan sebagai kebutuhan untuk mencari ketenangan diri untuk sebagian orang.

Cuaca dingin, pemandangan yang bagus, hingga terjalnya jalur pendakian, membuat banyak orang selalu penasaran dan ketagihan untuk mendaki gunung-gunung di Indonesia.

Tak heran, bila hobi tersebut hingga saat ini masih digandrungi oleh banyak generasi, mulai dari lansia hingga anak-anak.

Salah satunya Gen Z bernama Naya (24), yang mengaku baru hobi mendaki gunung sejak dua tahun ke belakang.

Ketertarikannya pada gunung tak lepas dari paparan di media sosial, sehingga membuatnya penasaran dan ingin mencoba.

Meski belum memiliki pengalaman, Naya mulai memiliki impian untuk merayakan ulang tahunnya di Puncak Gunung Prau, Wonosobo, Jawa Tengah, karena pemandangannya yang sangat indah.

"Saya ingin merayakan di sana karena ingin melihat bumi ini jauh lebih besar daripada saya," tutur Naya ketika ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (15/6/2026).

Namun sebelum ke Prau, ia justru menapaki kakinya terlebih dahulu di Kawah Ijen untuk melihat blue fire yang menjadi keajaiban alam paling langka di dunia.

Setelah menapaki kaki di Kawah Ijen, Naya mengaku kapok karena perjalanan mendakinya cukup melelahkan.

Namun, setelah beberapa bulan kemudian, ia justru rindu dengan suasana pegunungan dan penasaran untuk mendatangi gunung-gunung lain di Indonesia.

Dalam satu tahun, kini Naya sudah berhasil mendaki sekitar empat gunung yang berada di Pulau Jawa.

Hobi menguras dompet

Sebagai mahasiswa yang belum memiliki pekerjaan tetap, Naya menyadari hobi mendaki gunungnya sangat mahal dan menguras dompet.

Bahkan, di awal pendakian ke Gunung Prau, ia rela mengorbankan tabungannya sekitar Rp 5 juta, karena harus membeli banyak perlengkapan, seperti carrier, sepatu, dan juga jaket.

Namun, setelah memiliki semua perlengkapan bujet yang harus dipersiapkan untuk naik gunung sekitar Rp 500.000 hingga Rp 1,5 juta.

Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS

Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.