Dompet Dhuafa Jelang 33 Tahun: Teguhkan Warisan Pemikiran BJ Habibie untuk Pemberdayaan Umat

Dompet Dhuafa Jelang 33 Tahun: Teguhkan Warisan Pemikiran BJ Habibie untuk Pemberdayaan Umat

KOMPAS.com - Memasuki usia ke-33 tahun, Yayasan Dompet Dhuafa Republika (YDDR) meneguhkan kembali jati dirinya sebagai lembaga filantropi yang bertumpu pada integrasi nilai keislaman, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Melalui momen milad bertajuk *"Refleksi Masa Lalu, Menatap Masa Depan"* di Sasana Budaya Dompet Dhuafa, Jakarta, Kamis (26/06/2026), YDRR berkomitmen melanjutkan komitmen perjuangan para pendiri dalam membangun masyarakat.

Ketua Pengurus YDDR, Dr. Ahmad Juwaini, mengingatkan kembali pesan mendalam dari Pendiri Dompet Dhuafa, Parni Hadi, mengenai mata rantai sejarah lembaga.

"Dompet Dhuafa ada karena Republika. Republika ada karena Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). ICMI ada karena Bapak Habibie," sebut Ahmad Juwaini dalam siaran persnya, Selasa (30/6/2026).

Menurutnya, kalimat itu bukan sekadar pengingat sejarah, melainkan sebuah amanah besar agar gagasan Presiden Ke-3 Indonesia, B.J. Habibie terus diimplementasikan dalam gerakan pemberdayaan.

Menyeimbangkan imtaq dan iptek

Lebih lanjut, Ahmad Juwaini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara iman dan taqwa (Imtaq) dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) di era digital ini.

"Dompet Dhuafa dalam segala kegiatannya harus mencerminkan upaya untuk terus mengembangkan kualitas Imtaq masyarakat sekaligus memanfaatkan perkembangan teknologi untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Teknologi, bagi Dompet Dhuafa, wajib dihadirkan untuk memberikan nilai tambah dan dampak yang berkelanjutan bagi para penerima manfaat.

Senada dengan hal tersebut, Pembina dan Kurator Sasana Budaya YDDR, Andi Makmur Makka, menyebut bahwa ruh pengembangan sumber daya manusia (SDM) bentukan Habibie sudah mengakar sejak awal lembaga ini berdiri.

"Spirit Pak Habibie tentang pengembangan sumber daya manusia, pemberdayaan umat, serta harmonisasi antara keimanan dan ilmu pengetahuan menjadi fondasi yang terus hidup dalam perjalanan Dompet Dhuafa," ungkap Andi Makmur Makka.

Menurut Andi, manifestasi nyata dari pemikiran tersebut adalah bagaimana Dompet Dhuafa mengelola zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) secara produktif dengan memadukan sains dan keimanan.

Estafet perjuangan antargenerasi

Pembina Dompet Dhuafa, Yudi Latif, ikut memperdalam esensi nilai tersebut. Ia mengajak audiens menengok era 1990-an, masa ketika keislaman, kemodernan, dan kecendekiawanan bertemu melalui lahirnya ICMI.

Yudi menggambarkan B.J. Habibie sebagai sosok *third culture*—seorang ilmuwan yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu membumikan sains kepada masyarakat dengan bahasa yang sederhana.

Mengutip pemikiran sang teknokrat, Yudi mengingatkan bahwa pembangunan bangsa adalah sebuah kontinuitas yang dinamis.

"Pembangunan bukan perjuangan sekali jadi. Kita hari ini melanjutkan tongkat estafet perjuangan generasi sebelumnya, dan tugas kita adalah meneruskannya kepada generasi berikutnya," jelas Yudi.

Nilai-nilai warisan tersebut kini terus diwujudkan secara konkret melalui empat pilar *Multi Program Partnership* (MPP) Dompet Dhuafa, yaitu Pendidikan & Budaya, Kesehatan, Ekonomi, serta Sosial, Dakwah & Kemanusiaan.

Peneliti IDEAS, Agung Pardini, yang juga memandu sesi pemaparan dampak program, menilai refleksi ke-33 tahun ini sangat krusial bagi generasi muda di dalam lembaga.

"Hari ini refleksi ulang tahun Dompet Dhuafa ke-33 tahun. Menarik, digabungkan dengan cara kita menghormati sosok seorang presiden yang juga cendekiawan, Pak B.J. Habibie, yang selalu menekankan tentang pentingnya berinovasi dan peningkatan SDM," kata Agung.

Sebagai simbol estafet nilai, acara ini diwarnai dengan penyerahan buku-buku pemikiran B.J. Habibie serta arsip statis Harian Republika periode 1993–2000 ke Perpustakaan YDDR, sebelum akhirnya ditutup dengan doa bersama yang khidmat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS

Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.