KUPANG, KOMPAS.com – Kasus meninggalnya dokter muda, dr. Icha (28), akibat gantung diri di rumah orangtuanya kini berbuntut panjang. Dua anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), yang dituding melakukan intimidasi dokter saat bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu akhirnya angkat bicara.
Meskipun keluarga menyebut korban mengalami trauma berat hingga depresi sebelum mengakhiri hidupnya pada Jumat (26/6/2026), kedua wakil rakyat tersebut secara tegas membantah tuduhan intimidasi tenaga kesehatan.
Dua anggota DPRD TTU yang terseret dalam pusaran kasus ini adalah Therensius Lazakar dari Partai Golkar dan Norbertus Tubani dari PKB.
Melalui pengakuan anggota DPRD tersebut, mereka menjelaskan bahwa peristiwa di IGD RSU Leona pada Sabtu (13/6/2026) malam terjadi spontan karena kepanikan keluarga melihat kondisi pasien anak yang dipagut ular hijau.
Therensius mengakui bahwa dalam situasi mencekam itu, nada bicaranya memang sempat meninggi. Namun, ia menggarisbawahi bahwa hal tersebut murni cerminan rasa takut kehilangan keponakannya, bukan berniat menekan korban.
"Kami akui dalam situasi itu nada bicara memang sempat meninggi karena panik melihat kondisi pasien. Tetapi sama elevation tidak ada niat untuk mengintimidasi dokter ataupun tenaga kesehatan," ujar Therensius Lazakar kepada Kompas.com, Minggu (21/6/2026) lalu.
Therensius membeberkan kronologi versinya.
Sebelum dirujuk ke RS Leona pukul 17.00 Wita, pasien sempat tertahan lima jam di RSUD Kefamenanu hanya dengan penanganan infus dan paracetamol tanpa kejelasan hasil darah. Rujukan dilakukan karena RSUD kekurangan dokter bedah dan kehabisan stok anti-venom (serum anti-bisa ular).
Kepanikan memuncak ketika hingga pukul 21.00 Wita di RS Leona, keluarga merasa belum melihat adanya penanganan lanjutan yang signifikan sementara pasien terus mengeluh sakit dan gelisah. Saat itulah ia dan Norbertus mendatangi dr. Icha untuk meminta penjelasan prosedur medis, bukan mendikte tindakan dokter.
Bantahan serupa dilontarkan oleh Norbertus Tubani. Ia mengklaim situasi langsung mencair setelah Dokter Nur (Direktris RSU Leona) datang memberikan penjelasan medis secara jernih bahwa darah pasien tidak terkontaminasi bisa ular.
“Pasien sudah membaik setelah tiga hari dirawat... Sebelum pulang, kami juga menyampaikan permohonan maaf kepada Direktris RSU Leona, dr. Icha, serta tenaga medis yang berada di IGD,” ungkap Norbertus.
Versi Keluarga, Korban Ditekan hingga Alami Gangguan Jiwa
Bertolak belakang dengan klaim damai para legislator, pihak keluarga almarhumah menilai ada tekanan psikologis berat yang dialami dr. Icha pasca-kejadian tersebut.
Paman dr. Icha, Victor Manbait, mengungkapkan bahwa keponakannya sudah bekerja sesuai Standard Operating Procedure (SOP) dan arahan dokter spesialis anak. Ketegangan justru dipicu karena keluarga pasien mendesak pemberian vaksin tertentu yang secara medis belum direkomendasikan dan tidak tersedia di RS Leona.
Victor menyebut salah satu dari oknum anggota DPRD tersebut bertindak arogan dengan membentak dan menunjuk wajah dr. Icha.
“Dokter Icha mengaku masih mengalami ketakutan dan tekanan psikologis akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas,” kata Victor.
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app