KUPANG, KOMPAS.com — Gelombang kedukaan sekaligus kemarahan publik menyelimuti Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang dokter muda yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit (RS) Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), dr. Elizabeth Princila Utami Pakaenoni atau akrab disapa dr. Icha (28), ditemukan meninggal dunia akibat bunuh diri pada Jumat (26/6/2026) sore.
Kematian tragis dr. Icha memicu sorotan tajam secara nasional karena diduga kuat berkaitan dengan tekanan psikologis berat dan trauma mendalam yang dialaminya. Trauma ini muncul setelah sang dokter mendapat intimidasi dari sejumlah anggota DPRD Kabupaten TTU saat dirinya tengah berjuang menjalankan tugas pelayanan kemanusiaan.
Tragedi ini langsung memantik aksi solidaritas publik lewat tagar #SaveNakesTTU dan #HukumAnggotaDPRDTTU. Di depan Kantor DPRD Kabupaten TTU pada Sabtu (27/6/2026) pagi, sebuah tulisan protes ditempel tepat di plang nama lembaga legislatif tersebut.
"BAPAK IBU DEWAN YANG TERHORMAT, DARI GEDUNG RAKYAT INI, KAMI menagih tindakan tegas atas 3 anggota DPRD TTU YANG BERSIKAP TIDAK TERHORMAT MENGINTIMIDASI 'NAKES' YANG SEDANG MENJALANKAN TUGAS PELAYANAN KESEHATAN DAN KEMANUSIAAN," demikian isi tulisan tuntutan di selembar kertas tersebut.
Kronologi Penemuan Jenazah dan Surat Wasiat
Kapolres Kupang AKBP Rudy Junus Jacob Ledo mengungkapkan, peristiwa memprihatinkan ini pertama kali diketahui pada Jumat (26/6/2026) sekitar pukul 17.50 WITA. Seorang saksi yang berada di dalam mobil di depan rumah orangtua korban di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, mendengar teriakan histeris dari dalam rumah.
Ibu korban yang panik kemudian meminta saksi memeriksa lantai dua. Saat itulah dr. Icha ditemukan sudah tidak bernyawa di dalam kamarnya dengan posisi seutas tali nilon melilit lehernya dan terikat pada bingkai pintu.
Aparat kepolisian dari Polsek Kupang Tengah dan Tim Inafis Polres Kupang segera melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) menyeluruh pada pukul 18.40 WITA. Polisi mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk tali nilon biru sepanjang dua meter, gawai, dokumen, daster, hingga sepucuk surat rahasia.
"Selain barang bukti itu, ada juga barang bukti lainnya berupa sepucuk surat," kata Kasat Reskrim Polres Kupang Iptu Helmi Wildan, Minggu (28/6/2026).
Pihak keluarga membenarkan adanya surat wasiat yang ditulis tangan oleh dr. Icha. Namun, isinya belum diketahui karena langsung diamankan penyidik untuk kebutuhan penyelidikan. Hasil pemeriksaan luar medis di RS Bhayangkara Kupang menunjukkan adanya bekas jeratan pada leher korban dan tidak ditemukan tanda kekerasan luar yang tidak wajar lainnya. Atas permintaan keluarga, jenazah dr. Icha tidak diautopsi.
Isak Tangis Ayah Sujud di Kaki Bupati TTU
Suasana emosional luar biasa pecah saat Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo, datang melayat ke rumah duka di Baumata pada Sabtu (27/6/2026) malam sekitar pukul 18.00 WITA, didampingi Kapolres TTU AKBP Eliana Papote.
Ayah kandung dr. Icha, Gabriel Pakaenoni, yang tidak kuasa menahan duka mendalam langsung bersujud di hadapan Bupati TTU sambil memeluknya erat-erat, memohon keadilan atas kematian tragis putrinya.
"Kenapa kalian banyak-banyak datang ke sini, Bapak Bupati, saya mohon ampun," ucap Gabriel dengan suara bergetar dan air mata yang terus mengalir.
Sambil terus menangis di pelukan sang Bupati, Gabriel berbisik parau, "Ini Pak Bupati punya anak." Ia meminta pemerintah memberikan perhatian penuh dan membantu mengungkap kebenaran di balik peristiwa intimidasi yang merenggut jiwa dr. Icha.
Duduk Perkara Insiden di IGD RS Leona
Tekanan kejiwaan yang dialami dr. Icha berakar dari insiden di IGD RS Leona Kefamenanu pada Sabtu (13/6/2026). Paman dr. Icha, Victor Manbait, membeberkan bahwa keponakannya saat itu sedang menangani pasien anak yang digigit ular sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP) rumah sakit dan instruksi dokter spesialis.
Namun, situasi mendadak memanas ketika keluarga pasien mendesak pemberian vaksin atau serum anti-bisa ular (anti-venom) tertentu yang secara medis belum direkomendasikan dan tidak tersedia di rumah sakit tersebut. Di tengah kepanikan itu, datanglah oknum yang mengaku sebagai anggota DPRD TTU ke ruang pelayanan.
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app