"Demi Kebaikan, tapi Kami yang Menjerit" Pemulung Bantargebang Hadapi Penutupan Open Dumping

"Demi Kebaikan, tapi Kami yang Menjerit" Pemulung Bantargebang Hadapi Penutupan Open Dumping

BEKASI, KOMPAS.com - Penataan TPST Bantargebang menuju penghentian praktik open dumping memunculkan kecemasan bagi  pemulung di Ciketing Udik, Bantargebang, Kota Bekasi.

Banyak warga di kawasan tersebut menggantungkan hidupnya dari sampah.

Kekhawatiran itu muncul karena sejak volume sampah dikurangi setelah longsor TPST Bantargebang pada Maret 2026 lalu.

Karena itu, penghasilan para pemulung sudah lebih dulu merosot.

Andi (32), pemulung sekaligus pengelola lapak plastik, mengatakan, berkurangnya sampah yang masuk membuat hasil memulung tidak lagi seperti sebelumnya.

"Dari jumlah sampah yang masuk ke sini pun sudah 50 persen, sudah tidak seperti dulu," kata Andi kepada Kompas.com di Ciketing Udik, Bantargebang, Bekasi, Selasa (4/8/2026).

Menurut Andi, pendapatan pemulung yang sebelumnya sekitar Rp 100.000 - Rp 110.000 per hari kini hanya berkisar Rp 70.000 - Rp 80.000, bahkan ada yang mendapatkan Rp 45.000 - Rp 50.000 per hari.

Kampung pemulung di sebuah gang seberang TPST Bantargebang, Jalan Pangkalan 5, Kelurahan Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (4/7/2026)
Kampung pemulung di sebuah gang seberang TPST Bantargebang, Jalan Pangkalan 5, Kelurahan Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (4/7/2026)

Ia juga mengaku omzet lapak plastiknya turun sehingga jumlah pekerja yang dipekerjakan ikut berkurang.

Andi khawatir penutupan open dumping akan membuat para pemulung kehilangan sumber penghasilan dan terpaksa mencari sampah langsung ke Jakarta.

"Kalau memang pemerintah tidak mendukung para pemain limbah begini untuk mengelola sampah-sampah dari Jakarta di sini, mau enggak mau ya kita yang lari ke sana," ucap Andi.

Senada, Nur Kholis (35) mengatakan, penutupan satu zona saja sudah membuat pemulung berebut sampah di area yang lebih sempit sehingga pendapatan terus menurun.

"Satu saja sudah pengaruh, apalagi semuanya. Barang semakin berkurang, semakin banyak yang ngambil," kata Nur Kholis.

Pendapatannya kini turun, padahal uang itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan ketiga anaknya yang masih bersekolah.

"Yang paling penting untuk ini tuh anak saya, anak sekolah sih," ujar Nur Kholis.

Meski memahami alasan pemerintah menata TPST Bantargebang, ia berharap nasib para pemulung juga dipikirkan.