Cerita Oma Kiyowo Berjualan Charm demi Tetap Aktif di Usia Senja

Cerita Oma Kiyowo Berjualan Charm demi Tetap Aktif di Usia Senja

Jakarta, CNN Indonesia --

Barang-barang kecil itu tampak sederhana saat muncul di layar ponsel. Jepitan rambut, bando, gelang, gantungan kunci, boneka mungil, hiasan Natal, hingga charm warna-warni yang menggemaskan berjajar dalam unggahan Grace.

Lewat karya-karya itu, perempuan yang kini dikenal sebagai Oma Kiyowo itu menjaga hari-harinya tetap bergerak.

Nama 'kiyowo' yang melekat padanya pun terasa pas. 'Kiyowo' merujuk pada kata 'Korea gwiyeowo' yang berarti lucu atau imut. Sebutan itu pun dipilih karena seolah ikut menggambarkan isi lapak Grace.

la mencoba peruntungan lewat siaran langsung di aplikasi TikTok. Di depan kamera, ia memperlihatkan satu per satu aksesori kecil yang dibuatnya sendiri.

Rupanya, berjualan live ternyata tidak sesederhana menampilkan barang. Beberapa kali akunnya terkena pembatasan karena hanya memperlihatkan produk tanpa sosok penjual. Sang anak lalu memberi tahu, jika benar-benar ingin berjualan, ia harus berani muncul di layar.

"Kalau memang Mama benar mau jualan, harus berani tampil muka. Kalau enggak, ya sudah jangan jualan," cerita Grace menirukan ucapan anaknya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (25/6).

Dari sana, Grace mulai memberanikan diri. Awalnya, kalimat yang keluar hanya sepotong-sepotong. Gugup masih sering datang, ia pun belum sepenuhnya paham cara kerja media sosial dan live shopping.

Pelan-pelan, ia belajar.

Lima tahun berlalu, dari rumahnya di Tangerang, Grace masih terus berjualan lewat live, dibantu anaknya. Usianya memang tidak lagi muda, Grace memilih tidak menyebut angka pasti, hanya memberi satu petunjuk, sudah di atas 60 tahun.

Bagi Grace, berjualan bukan sekadar cara mencari uang. Ia memandang sebagai jalan untuk tetap bergerak, tetap berpikir, dan tetap merasa berguna di masa lanjut usia.

"Lansia itu enggak harus selalu duduk diam, enggak bikin apa-apa. Walaupun sudah umur, harus tetap produktif," kata Grace.

Suka jualan sejak kecil

Barang-barang kecil itu tampak sederhana saat muncul di layar ponsel. Jepitan rambut, bando, gelang, gantungan kunci, boneka mungil, hiasan Natal, hingga charm warna-warni yang menggemaskan berjajar dalam unggahan Grace.
Dengan usia yang tak lagi muda, Grace tak ingin hidupnya berhenti karena tubuhnya punya batas. (Foto: Arsip Istimewa)

Kedekatan Grace dengan dunia jual-beli sebenarnya sudah tumbuh sejak lama. Saat masih sekolah, ia sering membantu pamannya berjualan barang kelontong.

Dari sana, rasa senang terhadap aktivitas berdagang mulai terbentuk. Ia menikmati proses melayani pembeli, mengenal barang, dan melihat sesuatu yang dijual akhirnya berpindah tangan.

"Dari dulu memang suka jualan. Masih sekolah suka bantu di tempat om jualan barang kelontong," tuturnya.

Sebelum dikenal sebagai Oma Kiyowo, Grace juga sempat bekerja kantoran. Setelah memasuki usia lanjut, ia merasa tidak ingin hari-harinya habis hanya untuk duduk diam tanpa kegiatan.

Baginya, tubuh dan pikiran tetap perlu diajak bekerja. Lewat berjualan, ia harus mengingat nama barang, mengenali karakter produk, menjawab pertanyaan pembeli, hingga mengikuti alur transaksi di media sosial.

"Kalau jualan otomatis Oma harus belajar ingat barang, produk-produknya, karakter-karakternya. Jadi membantu melatih otak," ujarnya.

Perjalanan Grace berjualan secara daring memang tidak langsung berjalan mulus. Teknologi sempat terasa asing baginya. Cara live, menampilkan produk, berbicara di depan kamera, hingga mengurus media sosial bukan hal yang mudah ia pahami sejak awal.

"Namanya juga sudah lansia, jadi minta bantu anak untuk yang berhubungan dengan social media. Sedikit-sedikit aku mulai belajar pelan-pelan," katanya.

Sebagian produk ia kerjakan sendiri. Ada pula barang jadi atau bahan yang kemudian dirangkai dan dijual kembali. Semua ia jalani dari rumah, hanya bersama anaknya.

Di mata Grace, setiap barang jualannya punya tantangan masing-masing. Ia senang mengerjakan aksesori kecil yang lucu, lembut, dan berwarna. Hiasan Natal juga menjadi salah satu produk yang ia sukai, meski prosesnya tidak selalu mudah.

"Suka semuanya. Soalnya ada tantangannya masing-masing," imbuhnya.

Bukan cuma hobi, tapi jalan bertahan

Awalnya, Grace berjualan karena ingin punya kegiatan. Ia tidak ingin pikirannya cepat kosong, tidak ingin tubuhnya terlalu lama diam, dan tidak ingin terus bergantung pada anak.

Seiring waktu, jualan menjadi bagian yang lebih penting dalam hidupnya.

Hasil berjualan ikut membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Grace juga menggunakannya untuk membeli obat, apalagi dirinya memiliki kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan.

Di rumah, ia juga ikut menanggung kebutuhan suami yang kini banyak membutuhkan bantuan dalam keseharian.

"Awalnya memang supaya enggak pikun, ada kegiatan, ada bergerak juga. Tapi berjalannya waktu, ini jadi benar-benar buat beli obat, buat aku. Sekarang ini juga buat suami," katanya.

Keadaan itu tidak selalu mudah. Tapi Grace memilih memandang pekerjaannya sebagai jalan yang Tuhan bukakan untuknya.

"Semua ini juga jalan Tuhan. Awalnya cuma senang jualan, akhirnya jadi buat cari nafkah juga," ujarnya.

Dengan usia yang tidak lagi muda, Grace tidak ingin hidupnya berhenti hanya karena tubuhnya punya batas. Selama masih bisa berdiri, bergerak, dan bekerja, ia merasa harus tetap berusaha.

Pembeli yang jadi teman bercerita

Kesibukan berjualan membuat Grace tidak punya banyak waktu untuk bersosialisasi di luar rumah. Di rumah, ada banyak hal yang harus dibantu dan dikerjakan.

"Waktunya benar-benar enggak ada, karena oma sama anak harus bantu suami juga," katanya.

Meski begitu, live jualan membuka ruang sosial baru baginya. Lewat layar ponsel, ia tetap bisa bertemu orang, berbicara, menjawab pertanyaan, dan mendengar cerita para pembelinya.

Sebagian pembeli bahkan datang bukan hanya untuk membeli barang. Ada yang bercerita sedang sakit, akan menjalani ujian, atau meminta didoakan.

"Rasanya senang sekali. Masih bisa berkomunikasi, bisa bantu kasih masukan, bisa bantu doain," ujarnya.

Dari situ, jualan tidak lagi hanya soal transaksi. Ada perjumpaan kecil yang membuat Grace merasa tetap terhubung dengan orang lain.

Komentar tidak menyenangkan juga seringkali ia terima. Ada orang yang mengejek atau berkata buruk kepadanya saat berjualan. Tapi Grace memilih tidak menyimpan benci, selama masih bisa memberi nasihat, ia ingin melakukannya.

"Kalau ada yang ngatain apa pun, oma enggak benci. Kalau masih bisa kasih masukan, kasih nasihat, ya oma kasih," katanya.

Grace bahkan membayangkan orang-orang yang pernah berkata buruk itu sebagai anak-anak yang suatu hari bisa berubah, berhasil, dan membanggakan orang tuanya.

"Kalau satu waktu oma tahu dia sukses, berhasil, bisa jadi kebanggaan orang tuanya, rasanya bahagia luar biasa," ujarnya.

Lansia tetap bisa berkarya

Sejumlah lansia mengikuti Open Top Tour Transjakarta yang melintasi kawasan Thamrin hingga Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (28/5/2026). (CNN Indonesia/Febria Adha L.)
Ilustrasi lansia. (CNN Indonesia/Febria Adha L.)

Di mata Grace, masa lanjut usia bukan alasan untuk berhenti bergerak. Ia justru merasa tubuh harus terus dipakai agar tidak cepat melemah. 

Diam terlalu lama, baginya hanya akan membuat tubuh dan pikiran semakin cepat menurun.

"Selama masih bisa berdiri di atas kaki, jangan mau malas-malasan. Ayo kerja. Karena itu bermanfaat untuk diri kita sendiri," katanya.

Ia percaya, kegiatan kecil sekalipun bisa membantu lansia tetap aktif. Tidak harus selalu berjualan. Yang penting, tubuh bergerak, pikiran tetap dilatih, dan hari-hari tidak hanya dihabiskan dengan duduk diam.

"Ayo untuk bapak-bapak, ibu-ibu, semua oma-oma, opa-opa yang sudah lansia, tetap bergerak terus. Jangan duduk diam," ajaknya.

Grace juga mengingatkan betapa pentingnya menjaga kesehatan. Baginya, kesehatan adalah hal yang sangat mahal, terutama ketika usia tidak lagi muda.

"Selama kita masih ada tenaga, ada kekuatan, tetap yuk kita berkarya aja terus. Terutama jaga kesehatannya," pungkasnya.

Di masa lanjut usia, Grace tidak ingin hidupnya berhenti di kursi atau layar televisi. Selama masih diberi tenaga, ia ingin terus bekerja, berkarya, dan menjadi berguna.