Cerita Levi, Siswa SMAN 1 Klaten Raih Skor TKA Matematika 91,03 Tertinggi Se-Jawa Tengah, Tak Pernah Ikut Bimbel

Cerita Levi, Siswa SMAN 1 Klaten Raih Skor TKA Matematika 91,03 Tertinggi Se-Jawa Tengah, Tak Pernah Ikut Bimbel

KLATEN, KOMPAS.com - Muhammad Farellevi Al Fasahbari (18), siswa SMAN 1 Klaten tak menyangka dirinya meraih skor Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika tertinggi se-Jawa Tengah.

Anak tunggal dari pasangan Muh Sobari (54) dan Ariyani Cahyawati (38) itu meraih skor 91,03.

Padahal, Levi sapaan akrab tidak pernah mengikuti les bimbingan belajar (Bimbel) lembaga apa pun. Levi menerapkan sistem belajar mandiri di rumah.

"Tidak nyangka karena TKA juga baru pertama kali (ikut), sangat tidak nyangka. Yang pertama kali ngasih tahu kepala sekolah kamu nilai tertinggi Matematika," kata Levi saat diwawancarai Kompas.com melalui telepon, Sabtu (4/7/2026) malam.

Hanya belajar dari rumah

Levi menyiapkan waktu belajar sekitar dua bulan efektif untuk persiapan ujian TKA Matematika.

"Waktu belajar untuk TKA-nya itu hampir dua bulan kalau efektifnya. Saya belajarnya betul-betul di rumah cuma latihan-latihan soal aja. Cari di web, cari di Google," kata dia.

Meskipun tidak mengikuti bimbel, Levi selalu konsisten belajar setiap hari di rumah. Levi tidak bisa belajar mendadak sehari sebelum ujian.

Menurut Levi, dirinya setiap hari bangun pagi-pagi sekitar pukul 03.00 WIB untuk belajar dan istirahat melaksanakan shalat Subuh dilanjutkan belajar lagi hingga pukul 04.30 WIB.

"Saya menerapkan metode belajar konsisten setiap hari. Saya nggak bisa yang begadang belajar dari H-1 sebelum ujian. Jadi saya belajarnya itu setiap pagi bangun jam 3 terus ibadah lalu belajar mungkin sampai jam setengah 5," ungkap dia.

Sementara di sekolah, kata Levi dirinya mengikuti pembelajaran seperti biasa.

Justru, Levi banyak menghabiskan waktu belajar untuk persiapan ujian TKA Matematika di rumah.

"Ya udah, belajarnya cuma itu di rumah. Tapi setiap hari gitu. Kalau di sekolah cuma mengikuti pembelajaran. Jadi belajarnya memang setiap hari tapi tidak begitu over," kata dia.

Memanfaatkan kecanggihan teknologi

Levi juga mengatakan, memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk memecahkan apabila menemukan ada soal latihan yang sulit.

"Karena kita sudah di era teknologi kadang saya tanya ke Google, ke Youtube dan lain-lain gitu," imbuhnya.

Levi mengatakan, alasannya tidak ikut bimbel karena merasa belum membutuhkan. Terlebih biaya untuk ikut bimbel cukup mahal.