Bernadya telah merilis album studio keduanya bertajuk Semoga Hanya di Mimpi. Di balik album tersebut, penyanyi sekaligus penulis lagu itu menyimpan banyak cerita, mulai dari alasan memilih judul hingga konsep visual yang membawa nuansa era 2000-an.
Bernadya mengungkapkan judul Semoga Hanya di Mimpi dipilih karena mewakili perjalanan emosional yang ingin ia ceritakan dalam album tersebut, terutama soal ketakutannya akan hidup yang sedang berjalan baik-baik saja.
“Kenapa Semoga Hanya di Mimpi? Karena menurutku itu kalimat yang paling bisa merangkum keseluruhan cerita di album ini,” kata Bernadya saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan.
Menurut Bernadya, sebagian besar lagu di album ini menggambarkan ketakutan yang akhirnya benar-benar terjadi. Oleh karena itu, kalimat “Semoga hanya di mimpi” menjadi harapan agar berbagai kecemasan tersebut tidak menjadi kenyataan.
Selain mengusung cerita yang personal, Bernadya juga sengaja menghadirkan nuansa era 2000-an di album ini. Ide tersebut muncul setelah ia banyak mendengarkan album 18 milik Audy Item.
“Jadi aku berangkatnya karena aku lagi waktu itu sering dengerin Audy, album 18. Terus aku juga merasa lagu trek terakhir di album sebelumnya, Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan, orang banyak bilang terdengar nostalgic, jadi somehow terbawa ke masa 2000-an. Terus aku pikir, ‘Oh seru ya kalau kita berangkat dari sini, jadi benang merahnya itu 2000-an,’” tuturnya.
Konsep tersebut tidak hanya terasa dari musik, tetapi juga diwujudkan lewat visual album. Bernadya dan tim memilih Kamakura, Jepang, sebagai lokasi pemotretan. Namun, ia menegaskan keputusan tersebut bukan karena ingin menonjolkan nuansa Jepang.
“Sebenarnya kita tuh plan-nya enggak mau ngejar Jepangnya banget. Cuma ada beberapa warna-warna yang cuma ada di Jepang, kayak hijaunya Jepang beda, birunya Jepang beda,” ucapnya.
Bernadya menjelaskan target utama tim adalah menghadirkan visual yang mengingatkan pada era 2000-an. Menurutnya, warna-warna yang sesuai dengan konsep tersebut justru banyak ditemukan di Kamakura.
“Kita enggak mau sebenarnya orang ngerasain itu Jepang. Aim-nya adalah 2000-an, cuma entah kenapa warna-warna itu bisa didapatkannya di sana,” kata Bernadya.
Bernadya Hadirkan Pop Up Zone hingga Showcase Album Semoga Hanya di Mimpi
Bernadya juga ingin membawa semesta Semoga Hanya di Mimpi ke pengalaman yang lebih nyata melalui rangkaian aktivasi album. Bersama JUNI Records, ia menghadirkan Pop-Up Zone di Cilandak Town Square (Citos) pada 27–28 Juni yang mengusung nuansa era 2000-an.
Pengunjung dapat menemukan berbagai elemen nostalgia, mulai dari mading, merchandise bergaya Y2K, hingga box set album yang dikemas layaknya bonus CD majalah populer pada masanya.
Perjalanan album ini akan berlanjut lewat Semoga Hanya di Mimpi Album Showcase yang digelar di Tennis Indoor Senayan pada 25 Juli 2026. Bernadya mengatakan sudah tak sabar membawakan seluruh lagu di album keduanya dengan konsep panggung yang berbeda dari penampilan sebelumnya.
“Aku inginnya orang benar-benar ngerasain ini kayak begini. Semuanya di-twist in a good way,” ujar Bernadya.
CEO Juni Records, Adryanto Pratono, menyebut showcase tersebut menjadi konser terbesar Bernadya sejauh ini, dengan kapasitas sekitar 3.000 penonton. Menurutnya, pertunjukan itu dirancang untuk membawa penonton masuk lebih dalam ke semesta Semoga Hanya di Mimpi melalui konsep visual, tata panggung, hingga pengalaman konser yang telah disiapkan bersama tim kreatif.
Pembelian pre-sale tiket untuk showcase tersebut sudah dibuka per 27 Juni dan general sale akan dibuka pada 28 Juni mendatang. Harga tiket dibanderol mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 1,5 juta.