JAKARTA, KOMPAS.com – Penggunaan biosolar pada mobil diesel masih menjadi perdebatan di kalangan pemilik kendaraan. Sebagian beranggapan bahan bakar tersebut aman digunakan selama filter solar diganti lebih sering.
Lantas, bagaimana jika biosolar digunakan pada mobil diesel Chevrolet seperti Captiva dan Spin?
Pemilik Bengkel Spesialis Chevrolet Sala 3 Motor, Budi Cahyono, mengatakan, secara teknis mobil diesel Chevrolet memang bisa menggunakan biosolar. Namun, bahan bakar tersebut bukan menjadi pilihan yang direkomendasikan untuk penggunaan jangka panjang.
Solar Sulfur Rendah
"Memang bisa pakai biosolar, bisa. Tapi sebenarnya tidak direkomendasi. Kalau dibilang bisa, bisa. Tapi otomatis pasti ada efeknya. Untuk jangka panjangnya, otomatis usia dari komponen, terus dari mesin itu pasti lebih pendek," kata Budi, saat ditemui di Jakarta Pusat, Jumat (26/6/2026).
Menurut dia, pemilik Chevrolet diesel sebaiknya menggunakan bahan bakar dengan angka cetane (CN) dan kualitas yang lebih tinggi, seperti Dex atau produk sekelasnya.
"Jadi sebaiknya untuk mobil diesel Chevrolet, seperti Captiva atau Spin baiknya pakai Dex (CN 53) sekelasnya, pokoknya yang sulfurnya itu lebih rendah," ujar Budi.
Sering Ganti Filter Bukan Solusi
Budi juga menanggapi anggapan bahwa penggunaan biosolar tidak akan menimbulkan masalah selama filter bahan bakar diganti secara berkala.
Menurut dia, penggantian filter memang dapat membantu menyaring kotoran sebelum masuk ke sistem injeksi. Namun, cara tersebut tidak dapat mencegah terbentuknya endapan di dalam ruang bakar.
"Enggak ngaruh, tetap ngerusak mesin. Karena kalau sering ganti filter itu yang enggak masalah di injektornya, injection pump itu enggak kena kotoran. Tapi kalau mesin enggak bisa. Karena mesin kan di dalam, enggak ada yang bisa membersihkan kerak-kerak yang ada di dalam ruang bakar ini," kata Budi.
Menurut Budi, berbeda dengan mesin bensin, ruang bakar pada mesin diesel tidak mudah dibersihkan ketika sudah dipenuhi kerak karbon.
Ia menjelaskan, pada mesin bensin tersedia metode carbon cleaning yang dilakukan melalui lubang busi sehingga akses ke ruang bakar lebih mudah.
"Kalau bensin gampang, tinggal membuka busi, yang disebut dengan carbon clean, itu dilakukan untuk mesin bensin. Tinggal membuka busi, pistonnya kelihatan, nanti dikasih cairan, tunggu sebentar, lalu disedot. Itu sudah selesai," ujar Budi.
Sementara pada mesin diesel, proses tersebut jauh lebih sulit dilakukan karena akses menuju ruang bakar tidak semudah mesin bensin.
"Untuk diesel ini agak sulit memang. Saya juga belum pernah mencoba membersihkan kerak-kerak di dalam dengan cairan, karena akses cairan masuk ke piston itu susah, beda dengan bensin," kata Budi.
Turun Mesin Rp 40 Juta
Menurut dia, jika penumpukan kerak sudah menyebabkan kerusakan serius, biaya perbaikannya tidak murah.
"Kalau sudah turun mesin rata-rata antara Rp 30 juta sampai Rp 40 juta," ujar Budi.
Karena itu, ia menyarankan pemilik Chevrolet diesel menggunakan bahan bakar dengan kandungan sulfur yang lebih rendah sesuai rekomendasi, agar performa mesin tetap terjaga dan usia komponen lebih panjang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangUnduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app