Bagaimana Bisa Video Demo Lawas Beredar Lagi di Timeline Medsos?

Bagaimana Bisa Video Demo Lawas Beredar Lagi di Timeline Medsos?

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah menyebut video demonstrasi lama kembali beredar menjadi hoaks. Bagaimana itu bisa terjadi?

Pakar Komunikasi Digital, Rulli Nasrullah, menilai bahwa kemunculan kembali konten-konten lama bukanlah hal yang baru dalam ekosistem digital.

Menurut Rulli, karakteristik platform dan perilaku pengguna memungkinkan sebuah konten masa lalu hidup kembali ketika momentumnya tepat.

"Dalam kajian komunikasi digital, penyebaran konten tidak selalu ditentukan oleh faktor waktu, melainkan oleh relevansinya dengan percakapan publik yang sedang berlangsung," kata Rulli kepada Kompas.com, Kamis (6/8/2026).

Doktor bidang kajian media dan budaya dari UGM dan peneliti senior Arus Survei Indonesia (ASI) ini menjelaskan, setidaknya ada beberapa realitas digital yang mendasari hidupnya kembali konten-konten lama tersebut.

Kemungkinan organik dan algoritma

Pertama, munculnya isu sosial, politik, atau kebijakan yang menarik perhatian publik mendorong warganet untuk mencari dan membagikan ulang dokumentasi peristiwa yang dinilai memiliki kemiripan konteks.

Dengan faktor demikian, video masa lalu bisa muncul secara organik.

Faktor kedua berkaitan dengan sistem kerja platform itu sendiri.

Algoritma media sosial cenderung mengangkat kembali konten yang dulunya pernah memperoleh interaksi tinggi, sehingga video lama dapat kembali viral tanpa harus diproduksi ulang, mirip seperti fitur pengingat memori di platform digital.

"Sama seperti platform yang mengingatkan konten-konten yang pernah diunggah pada tahun-tahun sebelumnya," ujarnya.

Kemungkinan kesengajaan pengaruhi opini

Selain faktor organik, Rulli juga mengingatkan adanya potensi kesengajaan dari pihak tertentu yang perlu diinvestigasi lebih lanjut.

"Ketiga, walau ini harus diinvestigasi dan diteliti lebih jauh, terdapat kemungkinan ada pihak tertentu yang sengaja mengunggah ulang video lama untuk membangun narasi tertentu, memengaruhi opini publik, atau memancing reaksi emosional masyarakat," jelasnya.

Ia menuturkan, konteks tersebut sangat rentan terjadi karena ruang digital saat ini dipenuhi berbagai kasus di mana pengguna terjebak dalam pusaran hoaks, informasi palsu, hingga hasutan.

Kenali akun penyebar info di medsos

Untuk mendeteksi indikasi semacam itu, publik dapat mengenali pola-pola tertentu, seperti akun yang baru dibuat, akun anonim dengan jumlah konten minim, pengikut yang sedikit, atau karakteristik lain yang menyulitkan pelacakan kepemilikan akun.

Lebih lanjut, Rulli menyoroti risiko utama dari beredarnya video lama yang tayang kembali tanpa menyertakan informasi lengkap mengenai lokasi, tanggal, dan peristiwa aslinya.