YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Dosen Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Wahyudi mengingatkan pentingnya kesiapan kendaraan diesel menjelang penerapan bahan bakar biodiesel B50 yang akan dimulai pemerintah pada 1 Juli 2026.
Menurut Wahyudi, kebijakan tersebut merupakan langkah positif dalam memperluas pemanfaatan energi terbarukan.
Namun, ia menilai aspek teknis kendaraan tetap perlu diperhatikan agar penerapannya berjalan optimal.
“Peningkatan kandungan biodiesel ini menunjukkan semakin besarnya pemanfaatan energi terbarukan di sektor transportasi,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UMY, Sabtu (20/6/2026).
Kendaraan Lama Perlu Perhatian Lebih
Wahyudi menjelaskan, kendaraan diesel keluaran terbaru pada umumnya telah dirancang untuk menggunakan campuran biodiesel dalam kadar yang lebih tinggi.
Hal ini berbeda dengan kendaraan yang sudah berusia lebih tua. Meski masih dapat menggunakan B50, kelompok kendaraan ini berpotensi membutuhkan perawatan tambahan karena karakteristik bahan bakarnya berbeda dibandingkan solar murni.
Ia menyebut biodiesel memiliki tingkat kekentalan dan kepadatan yang lebih tinggi.
Selain itu, nilai kalor yang dimiliki juga lebih rendah dibandingkan bahan bakar solar.
“Karakteristik biodiesel yang lebih kental dapat memengaruhi proses pembakaran," kata Wahyudi.
"Pada kendaraan yang lebih lama, kondisi ini berpotensi menyebabkan penurunan performa dan tenaga dibandingkan ketika menggunakan solar murni,” sambungnya.
Endapan dan Komponen Mesin Perlu Diawasi
Selain berpengaruh terhadap performa kendaraan, penggunaan B50 juga berpotensi memicu terbentuknya endapan pada sistem bahan bakar.
Menurut Wahyudi, kondisi tersebut lebih mungkin terjadi apabila kualitas biodiesel yang digunakan tidak terjaga dengan baik.
Karena itu, pemilik kendaraan diesel disarankan lebih rutin memeriksa filter bahan bakar agar sistem tetap bekerja secara optimal.
Ia menambahkan, dampak penggunaan B50 terhadap ketahanan mesin secara umum tidak terlalu besar.
Namun pada kendaraan berusia tua, sejumlah komponen berbahan karet pada sistem bahan bakar berpotensi mengalami keausan lebih cepat.