Jakarta, IDN Times - Pemberian latihan militer tidak hanya ditujukan bagi calon manajer koperasi desa merah putih dan kampung nelayan merah putih. Siswa sekolah rakyat pun tak luput dari pelatihan militer. Namun, pembekalan itu bakal diberikan oleh taruna dari Akademi Militer, Magelang.
Rencana itu menuai dari kelompok masyarakat sipil, termasuk Amnesty International Indonesia (AII). Mereka menilai militerisasi semakin meluas di ruang publik.
"Pemerintah menutup mata terhadap kritik kebijakan pelibatan tentara dalam program pemerintah di luar urusan pertahanan. Pemerintah jelas tak belajar dari tragedi meninggalnya empat warga sipil saat mengikuti latihan dasar kemiliteran untuk menjadi pengurus koperasi desa merah putih dan kampung nelayan," ungkap Direktur eksekutif AII, Usman Hamid di dalam keterangan pada Jumat (26/6/2026).
Ia menegaskan, ruang pendidikan sipil adalah ruang netral yang harusnya menjadi tempat anak didik untuk mengembangkan potensi penalaran dan berpikir kritis. Ruang kelas, kata Usman, sudah sepantasnya bebas dari intervensi militer.
"Dalih pembentukan karakter dan kedisiplinan anak bukan lah alasan untuk memberikan jalan bagi militer masuk ke ranah pendidikan sipil," tutur dia.