CNN Indonesia
Maskapai asal Australia, Qantas, masih mempersiapkan penerbangan terpanjang di dunia yang dapat berlangsung hingga 22 jam tanpa henti.
Untuk mewujudkan rute sangat jauh itu, Qantas mengandalkan pesawat Airbus A350-1000ULR yang telah dimodifikasi secara khusus agar mampu bertahan di udara hampir seharian penuh.
Mengutip Business Insider, Qantas akhirnya memamerkan inti dari proyek ambisius bertajuk Project Sunrise pada pekan lalu.
Pesawat yang digunakan bukan A350 biasa, melainkan versi khusus dengan tangki bahan bakar tambahan, penguatan struktur, kabin first class ultra-premium, serta area khusus yang disebut wellbeing zone.
Seluruh modifikasi ini dirancang agar perjalanan jauh yang melelahkan terasa lebih nyaman bagi penumpang.
Modifikasi dan interior pesawat A350
Agar mampu mencapai jarak tempuh rekor, pesawat ini dibekali sejumlah modifikasi penting. Salah satunya, tangki bahan bakar belakang berkapasitas 5.300 galon yang melengkapi tiga tangki lainnya di bagian perut dan sayap pesawat.
Airbus menyebut tangki-tangki itu dilengkapi sensor sensitif yang terus memantau aliran bahan bakar, suhu, dan performa keseluruhan pesawat.
Selain itu, pesawat juga dipasangi sistem pendingin galley baru yang membuat bobot lebih ringan sekaligus menjaga makanan tetap segar lebih lama.
Karena semua sistem ini masih baru, Airbus harus melakukan pengujian mendalam sebelum mendapat sertifikasi.
Bahkan, untuk memastikan hasil uji akurat, Airbus membuat lima ton alat pemantau khusus dan menggunakan boneka penumpang untuk meniru panas tubuh manusia di dalam kabin.
Untuk operasionalnya, lebih dari 360 pilot dan 1.200 awak kabin sedang dilatih menyambut armada 12 pesawat A350-1000ULR yang disiapkan Qantas.
Dari sisi kenyamanan, kabin pesawat akan dibuat lebih premium dengan hanya 238 kursi, jauh lebih sedikit dibandingkan A350-1000 reguler yang mampu menampung sekitar 400 penumpang.
Kabin dibagi ke dalam empat kelas, yaitu enam kursi first class, 52 business class, 40 premium economy, dan 140 ekonomi. Ada pula wellbeing zone untuk penumpang agar bisa melakukan peregangan, bergerak, dan minum.
Qantas juga menambahkan sistem pencahayaan dan ritme sirkadian dengan 12 skenario cahaya, seperti "Sunrise", "Sunset", dan "Awake" untuk membantu mengurangi jet lag serta menyesuaikan tubuh penumpang dengan zona waktu tujuan.
Berapa harga tiket pesawat?
Airbus saat ini sedang memulai uji terbang pesawat A350 di Prancis sebagai bagian dari proses sertifikasi di Eropa.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, pemesanan tiket untuk penerbangan perdana Project Sunrise antara Sydney dan London akan dibuka pada Februari 2027. Penerbangan pertamanya dijadwalkan lepas landas pada Oktober 2027.
Qantas menilai proyek ini berpotensi membuka peluang pasar baru, terutama dengan menyasar pelancong bisnis dan wisatawan premium yang bersedia membayar lebih demi kenyamanan penerbangan nonstop.
Namun, harga tiket diperkirakan akan tinggi karena kapasitas pesawat lebih sedikit, biaya bahan bakar dan kru lebih besar, serta sifat eksklusif dari rute tersebut.
Sebagai perbandingan, penerbangan Qantas dari Sydney ke London dengan satu kali transit pada musim panas ini biasanya dibanderol sekitar US$2.000 (sekitar Rp35,7 juta) pulang-pergi. Adapun tiket first class bisa melampaui US$20.000 (sekitar Rp357,2 juta).
(rti)