PEKANBARU, KOMPAS.com - Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan Daerah Sumatera Manggala Agni, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, berhasil memadamkan sepenuhnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas 80 hektar di Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.
Keberhasilan ini menjadi capaian penting di tengah tantangan musim kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran di sejumlah wilayah.
Kebakaran tersebut terjadi di Desa Pematang Pudu, Kecamatan Mandau, yang sebelumnya sempat menyulitkan proses pemadaman akibat kondisi lingkungan yang cukup ekstrem.
Bagaimana proses pemadaman karhutla dilakukan?
Kepala Stasiun Dalkarhut Sumatera, Ferdian Krisnanto, menjelaskan bahwa proses pemadaman melibatkan berbagai unsur, baik dari darat maupun udara.
"Alhamdulillah, proses pemadaman di Pematang Pudu siang ini dinyatakan telah padam sepenuhnya. Seluruh tim Manggala Agni dalam kondisi sehat dan telah kembali dengan selamat ke markas masing-masing," katanya dalam pernyataan yang diterima di Pekanbaru, Kamis (23/7/2026) dikutip dari Antara.
Sebanyak empat tim regu Manggala Agni dikerahkan dari daerah operasional Siak, Dumai, dan Pekanbaru untuk menangani kebakaran tersebut.
Selain itu, dukungan udara juga diberikan melalui pengerahan tiga unit helikopter waterbombing sejak Rabu (15/7/2026).
Keterlibatan lintas sektor turut mempercepat proses pemadaman. Selain Manggala Agni, unsur TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, serta masyarakat setempat ikut berperan aktif di lapangan.
Apa saja tantangan yang dihadapi di lapangan?
Proses pemadaman tidak berjalan mudah. Kondisi lokasi kebakaran yang dipenuhi bahan bakar alami, seperti semak kering dan lahan gambut, membuat api cepat menyebar.
Selain itu, angin kencang yang terjadi baik siang maupun malam hari turut memperparah situasi.
Tim pemadam juga menghadapi keterbatasan sumber air. Saluran air yang tersedia berupa kanal kecil atau “saluran cacing” mengalami penyusutan akibat kemarau panjang.
Akibatnya, petugas harus melakukan upaya tambahan sebelum memadamkan api, seperti:
- Membersihkan lumpur agar air bisa digunakan
- Mengoptimalkan sumber air yang terbatas di sekitar lokasi
- Mengatur distribusi air untuk efisiensi pemadaman
Selain kerja keras tim di lapangan, faktor cuaca juga turut membantu proses pemadaman. Hujan yang turun pada Kamis dini hari (23/7/2026) memberikan dampak signifikan terhadap penurunan intensitas api.
Pada hari terakhir pemadaman, tim Manggala Agni Daops Dumai berhasil mengendalikan titik api hingga hanya menyisakan asap tipis.
Kondisi ini mempercepat proses pendinginan dan memastikan tidak ada lagi titik api yang berpotensi memicu kebakaran lanjutan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang