Karhutla 17 Hari di Kotim Belum Padam Meski Sudah Water Bombing, Ini Penjelasan BPBD

Karhutla 17 Hari di Kotim Belum Padam Meski Sudah Water Bombing, Ini Penjelasan BPBD

SAMPIT, KOMPAS.com - Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui water bombing di Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, belum berhasil memadamkan api sepenuhnya.

Meski helikopter telah beberapa kali menjatuhkan ribuan liter air dari udara, titik api masih terus muncul di kawasan yang terbakar selama sekitar 17 hari tersebut. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mengungkapkan kondisi lahan gambut dan minimnya sumber air menjadi penyebab utama pemadaman berlangsung sulit.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan titik api di Desa Eka Bahurui mulai terpantau sejak 3 Juli 2026 dan hingga kini masih menjadi salah satu lokasi karhutla paling sulit ditangani.

"Kalau dihitung dari 3 Juli sampai sekarang, berarti sudah sekitar 17 hari. Sampai hari ini api masih aktif dan menjadi perhatian kami," kata Multazam, dikutip dari Tribun Kalteng, Senin (20/7/2026).

Api Masih Hidup di Bawah Permukaan Gambut

Menurut Multazam, water bombing tetap membantu menekan intensitas kebakaran. 

Namun, api yang berada di bawah permukaan lahan gambut membuat kebakaran sulit dipadamkan secara menyeluruh.

Bahkan, hasil ground check menggunakan pesawat nirawak (drone) pada Senin pagi menunjukkan kepulan asap masih cukup tebal di lokasi kebakaran.

"Tadi pagi saya melakukan ground check menggunakan pesawat nirawak. Dari udara terlihat kepulan asap cukup tebal. Itu menandakan api masih aktif di bawah tanah dan harus segera dipotong agar tidak meluas," ujarnya.

Karena kondisi tersebut, BPBD kini lebih memprioritaskan memutus jalur perambatan api dibandingkan memadamkan seluruh area yang terbakar sekaligus.

"Kami tidak bisa memadamkan seluruh area yang terbakar. Yang kami lakukan adalah memutus perambatan api supaya tidak meluas. Itu yang sekarang juga kami lakukan di Kuda Marlih," kata Multazam.

Minim Sumber Air Jadi Kendala Terbesar

Selain karakteristik lahan gambut, minimnya sumber air di sekitar lokasi kebakaran juga menjadi tantangan utama dalam proses pemadaman.

Saat pemadaman darat dilakukan, petugas bahkan harus membentangkan sekitar 26 gulung selang atau sepanjang 750 meter agar air dapat menjangkau titik api yang berada di tengah kawasan berhutan.

"Personel siap, unit juga siap. Tapi kalau di lapangan air tidak tersedia, tentu kami kesulitan melakukan pemadaman. Itu kendala utama di Eka Bahurui," ujar Multazam.

Camat Mentawa Baru Ketapang Irpansyah juga menyampaikan persoalan serupa.