Gen Z Perlu "Fourth Place" untuk Atasi Rasa Kesepian Digital

Gen Z Perlu "Fourth Place" untuk Atasi Rasa Kesepian Digital

JAKARTA, KOMPAS.com - Gaya hidup digital memunculkan tantangan baru bagi kesejahteraan mental anak muda. Meski selalu terhubung secara daring, generasi Z justru berisiko tinggi mengalami perasaan terisolasi akibat kurangnya interaksi fisik yang bermakna.

Kondisi tersebut mendorong lahirnya kebutuhan akan ruang interaksi baru di luar rumah, tempat kerja, atau sekolah.

Konsep ruang keempat ini hadir sebagai jembatan bagi mereka yang ingin melepaskan diri dari layar gawai dan kembali berjejaring di dunia nyata.

"Generasi Z itu suka banget fourth place ini karena jadinya merasakan koneksi," ucap Mental Health Counselor, Sasya Sava, saat ditemui di Lightplus Lightperience Picnic 2026, Urban Forest Cipete, Jakarta Selatan, Jumat (17/7/2026).

"Dalam satu komunitas itu, mereka punya ketertarikan yang sama. Jadi bukan hanya berkumpul, tapi untuk bisa mencurahkan isi hatinya mereka," tambah dia.

Mengimbangi koneksi digital dan sosial dengan fourth place

Apa itu fourth place?

Konsep ruang keempat pertama kali diperkenalkan oleh ahli geografi ekonomi Arnault Morisson pada tahun 2018.

Ruang ini didesain khusus sebagai tempat pelarian yang sehat dari rasa penat, di mana individu dapat menemukan kelompok yang sefrekuensi.

Kesamaan minat menjadi fondasi utama yang menyatukan orang-orang di dalam ruang tersebut, misalnya dari komunitas lari, pencinta dunia kecantikan, hingga kelompok untuk journaling.

"Ini sebuah tempat yang memang diperuntukkan untuk kita berkoneksi. Berkoneksinya bukan secara masif seperti kita ke mal, tapi secara luas namun spesifik berdasarkan minat," tutur Sasya.

Kehadiran komunitas yang spesifik ini memberikan ruang aman bagi para anggotanya. Mereka tidak lagi merasa terasing karena dikelilingi oleh individu yang memahami keluh kesah atau antusiasme serupa.

Mental Health Counselor, Sasya Sava, saat ditemui di Lightplus Lightperience Picnic 2026, Urban Forest Cipete, Jakarta Selatan, Jumat (17/7/2026).
Mental Health Counselor, Sasya Sava, saat ditemui di Lightplus Lightperience Picnic 2026, Urban Forest Cipete, Jakarta Selatan, Jumat (17/7/2026).

Keterhubungan di ruang nyata memberikan bobot emosional yang jauh lebih dalam. Pertemanan yang sekadar terjalin lewat layar gawai terkadang terasa dangkal karena hilangnya gestur fisik yang nyata.

"Media sosial itu kan tetap fana. Gen Z butuh makna, bukan hanya koneksi semata," ungkap Sasya.

Dengan kata lain, sekelompok teman yang saling mengenal di media sosial dan memiliki peminatan yang sama, menciptakan "ruang keempat" mereka sendiri di suatu tempat ketika memutuskan untuk bertemu di dunia nyata.

Ruang digital tak bisa menggantikan interaksi di dunia nyata

Kebutuhan untuk berkumpul dan berinteraksi secara tatap muka pada dasarnya merupakan bagian tak terpisahkan dari insting alami manusia.

Keasyikan bermain gawai sendirian di dalam kamar perlahan mengikis kemampuan sosial tersebut, yang pada akhirnya memicu gangguan emosional, menurut dr. Iksanuddin Qothi yang aktif mengedukasi khalayak di TikTok.