PALANGKA RAYA, KOMPAS.com - Semburat mentari memasuki celah ventilasi aula SDN 1 Batu Belaman, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah Selasa (21/7/2026).
Sinar matahari itu menyinari kepala seorang bocah berseragam putih-merah yang sedang membuka tas kecil, mengeluarkan buku dan pensil.
Di sebelahnya, ada bocah lain yang masih mengenakan seragam Taman Kanak-kanak (TK). Ia juga sedang sibuk dengan pensil dan buku tulisnya.
Mereka harus belajar lesehan. Tanpa meja dan kursi.
Pemandangan serupa juga terlihat di ruang guru. Anak-anak tampak santai menikmati pelajaran. Meski harus membungkuk untuk menulis.
Kepala SDN 1 Batu Belaman, Nur Asiah mengatakan, sekolah yang ia pimpin memang sudah kekurangan kelas sejak 2023.
Kini, pada 2026, ada 76 siswa yang harus belajar lesehan di aula sekolah. Tanpa sekat.
Nur mengungkapkan bahwa saat ini sekolahnya memiliki 12 rombongan belajar (rombel). Namun hanya tersedia 8 ruang kelas. Sehingga masih kurang 4 ruang lagi.
Kelas 1A belajar di ruang guru. Sementara tiga kelas lainnya berada di aula.
“Tiga rombel (kelas 1B, 2A, dan 2B) menggunakan aula terbuka buatan komite sekolah yang didindingi papan (nusa board). Di lokasi ini siswa belajar lesehan, tidak bersekat-sekat, tanpa meja dan kursi,” ungkap Asiah saat dihubungi Kompas.com dari Palangka Raya, Rabu (22/7/2026).
Menurut Asiah, SDN 1 Batu Belaman merupakan satu-satunya SD negeri di Desa Batu Belaman.
Walau sekolah bermaksud membatasi kuota, pihak dinas menetapkan penerimaan hingga 2 rombel karena tingginya kebutuhan warga sekitar.
“Soalnya di Desa Batu Belaman ini kan banyak BTN baru, orang-orang pindahan, posisinya pun di poros,” tuturnya.
Sempat Belajar Bergantian
Asiah menuturkan, dulu saat masih diterapkan sistem 6 hari sekolah, kekurangan kelas di SDN 1 Belaman dapat disiasati dengan pembelajaran bergantian, pagi dan siang.
“Setelah diterapkannya 5 hari sekolah, jam belajar menjadi lebih panjang (hingga pukul 11.30/13.35), sehingga seluruh siswa wajib masuk pagi serentak dan tidak bisa lagi memakai sistem piket ruangan atau bergiliran,” ujarnya.