Unjuk Karya 5 Brand-Desainer Usai 'Inkubasi' Bersama Pintu Incubator

Unjuk Karya 5 Brand-Desainer Usai 'Inkubasi' Bersama Pintu Incubator

Jakarta, CNN Indonesia --

Panggung JF3 Fashion Festival 2026 menghadirkan lima brand dan desainer dengan koleksi yang telah melalui 'inkubasi' di program Pintu Incubator. Program ini jadi salah satu wujud kerja sama bilateral Indonesia dan Prancis.

Dalam pertunjukan kali ini, Pintu Incubator seolah membuktikan bahwa ada begitu banyak talenta muda Indonesia yang layak diberikan atensi sekaligus kesempatan.

Sebanyak dua brand, Saul Studio dan Toja House, serta tiga desainer, Aldrie, Andrean NR, dan Dacia berkesempatan mempresentasikan koleksi mereka di panggung JF3 Fashion Festival 2026 pada Kamis (23/7).

Sebelumnya, selama sekitar empat bulan mereka telah melalui 'inkubasi' yang terdiri dari rangkaian kelas guna pengembangan kapasitas termasuk pengembangan produk, strategi bisnis, dan ekspor-impor. Kelas-kelas dipandu para mentor dari Indonesia dan Prancis dengan beragam latar belakang. Koleksi ini pun jadi semacam rapor fisik hasil belajar, evaluasi, dan kurasi. Seperti apa?

Andrean NR - Di Tengah Perjalanan

Andrean NR mengusung koleksi busana pria dengan tajuk "Di Tengah Perjalanan". Sebanyak enam look busana didominasi material denim, lalu siluet celana pendek yang mengingatkan pada tampilan street wear yang santai.

Akan tetapi, desainer yang berbasis di Yogyakarta ini memadukannya dengan siluet formal berupa kemeja. Meski demikian, tetap ada sedikit 'twist' dengan potongan kerah memanjang, dasi asimetris, lalu dipadu dengan bolero dan jaket denim.

Koleksi "Di Tengah Perjalanan" secara keseluruhan dapat ditangkap sebagai rangkuman kisah pembentukan jati diri. Memadukan bahan denim yang tahan lama dengan siluet klasik yang tak mengenal kata "tua". Rasanya di tengah gempuran tren apa pun, koleksi ini tetap bisa stand out.

Toja House - Dvara

Dari koleksi bernuansa denim, Toja House mengajak penikmat fashion memasuki "Dvara". "Dvara", tajuk koleksi ini, yang dalam bahasa Sansekerta berarti pintu, gerbang, atau ambang.

Sebanyak 5 brand dan desainer memamerkan karya busana usai mengikuti program Pintu Incubator. Mereka telah melalui rangkaian kelas, mentoring, evaluasi, dan kurasi hingga berkesempatan mempresentasikan koleksi di JF3 Fashion Festival 2026.
Toja House mengusung jalinan benang yang dibentuk jadi rajutan permadani, tenun tablet khas Mamasa, Sulawesi Barat, juga penggunaan teknik Kumihimo dari Jepang. (Arsip JF3)

Jenama memadukan rajutan permadani, tenun tablet dari Mamasa, Sulawesi Barat, dan jalinan benang-benang menggunakan teknik tradisional Jepang Kumihimo. Hasta karya ini dihadirkan dalam rupa tas termasuk hand bag, sling bag, dan tote bag.

Yang unik dari tas-tas ini adalah motifnya. Ada pun tas dengan motif geometris berwarna merah, hijau, biru, kuning, lalu dipadukan dengan tali kotak-kotak hitam-putih.

Dacia - Origo S/S27

Sebanyak 5 brand dan desainer memamerkan karya busana usai mengikuti program Pintu Incubator. Mereka telah melalui rangkaian kelas, mentoring, evaluasi, dan kurasi hingga berkesempatan mempresentasikan koleksi di JF3 Fashion Festival 2026.
Dacia mempersembahkan koleksi yang terinspirasi dari budaya dan lanskap Pulau Bangka, tanah asal sang desainer Daciadhia Phoebehana. (Arsip JF3)

Jenama Dacia membawakan koleksi bertajuk "Origo S/S27". Koleksi terinspirasi dari budaya dan lanskap Bangka, tempat asal sang desainer Daciadhia Phoebehana yang akrab disapa Phoebe. "Origo" sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti asal atau awal mula.

Phoebe lewat Dacia mencoba menterjemahkan Pulau Bangka ke dalam siluet modern, ekspresi, dan relevan. Tak lupa ia menyematkan kain cual yakni kain tenun khas Bangka Belitung.

Sekilas kain cual hanya sebagai elemen dekoratif pada tampilan busana. Namun rupanya kain cual di sini dijadikan elemen yang dapat dilepas-pasang sehingga memungkinkan pemakainya untuk menata sesuai selera dan keperluan.

Saul Studio - The next chapter

Sebanyak 5 brand dan desainer memamerkan karya busana usai mengikuti program Pintu Incubator. Mereka telah melalui rangkaian kelas, mentoring, evaluasi, dan kurasi hingga berkesempatan mempresentasikan koleksi di JF3 Fashion Festival 2026.
Deret busana wanita dari Saul Studio yang diberi tajuk "The next chapter". (Arsip JF3)

Saul Studio ingin merayakan perempuan yang terus bertumbuh. "The next chapter" menggambarkan bahwa selalu ada awal mula yang baru. Hal ini juga mungkin bisa diartikan selalu ada harapan dalam tiap fase perjalanan hidup.

Deret koleksi mampu menunjukkan perempuan-perempuan kuat yang sudah jungkir-balik menghadapi tantangan. Siluet didominasi celana panjang lebar, dipadu dengan atasan blus, tank top, tube top, kemeja, vest, juga outer.

Koleksi mengambil warna 'aman' seperti putih polos, putih dengan motif garis berwarna biru muda, dan hitam. Ada kesan 'lady boss' yang tegas tapi memiliki kelembutan berkat lengan balon berukuran besar.

Aldrie - Roach Me, Roach Me Not

Sebanyak 5 brand dan desainer memamerkan karya busana usai mengikuti program Pintu Incubator. Mereka telah melalui rangkaian kelas, mentoring, evaluasi, dan kurasi hingga berkesempatan mempresentasikan koleksi di JF3 Fashion Festival 2026.
Aldrie menantang ekspektasi tak masuk akal yang kerap disematkan pada pria lewat koleksi terbarunya, "Roach Me, Roach Me Not". (Arsip JF3)

Kecoa rupanya bisa menunjukkan eksistensinya di panggung JF3 Fashion Festival 2026. Buat sebagian orang, serangga ini begitu menakutkan. Namun pria kerap dituntut untuk tidak punya rasa takut termasuk takut akan kecoa.

Lewat koleksi "Roach Me, Roach Me Not", Aldrie ingin menantang segala ekspektasi tak masuk akal yang kerap dibebankan pada pria. Dia pun menghadirkan siluet busana yang tidak biasa di kalangan kaum Adam seperti kemeja yang dipotong tinggal setengah, vest dengan potongan tak beraturan, juga elemen aksesori yang dibuat menonjol bahkan berbentuk 3D.

Kecoa dibuat dari limbah plastik daur ulang lalu disematkan jadi bros besar.

Sementara itu, tahun ini jadi tahun kelima Pintu Incubator berlangsung sejak 2022. Thresia Mareta, Co-initiator Pintu Incubator dan founder Lakon Indonesia, berkata Pintu dibangun sebagai ruang para pelaku mode untuk bertumbuh.

Pertumbuhan ini, kata dia, sering terjadi saat mereka dipertemukan dengan pengalaman, sudut pandang, dan pertanyaan yang tepat. Kemudian tak lupa bahwa kreativitas musti diimbangi dengan penerimaan pasar.

"Bukan cuma berkreasi tapi hasil kreasi ini diterima di pasar dan bisnisnya jalan. Kalau di Pintu, kami selalu mengarahkan mereka supaya nilai komersial itu harus datang. Bisnis itu harus berjalan dan bagaimana mereka bisa ketemu antara sisi kreatif dan sisi bisnis," kata Thresia dalam konferensi pers pada Kamis (23/7).

Sebanyak 5 brand dan desainer memamerkan karya busana usai mengikuti program Pintu Incubator. Mereka telah melalui rangkaian kelas, mentoring, evaluasi, dan kurasi hingga berkesempatan mempresentasikan koleksi di JF3 Fashion Festival 2026.
Presentasi koleksi "Di Tengah Perjalanan" dari Andrean NR. (Arsip JF3)

Di sisi lain, Carol Meyer, Atase Kebudayaan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia sekaligus perwakilan Institut Français d'Indonésie (IFI), mengatakan seperti nama programnya, Pintu, diharapkan ini jadi pintu yang menghubungkan dan memberikan akses terhadap pelaku mode Indonesia dan Prancis.

Pelaku mode dari Indonesia dapat belajar dari para profesional dari Prancis dan memperluas pasar produk mereka tak hanya di Prancis tapi juga ke berbagai negara.

"Selama lima tahun berjalan, program sudah memberikan manfaat bagi lebih dari 150 pelaku mode baik dari Indonesia maupun dari Prancis. Saya yakin jembatan ini cukup kuat [menghubungkan] kedua negara dan ekosistem mode kita, berikut pelakunya," imbuh Meyer dalam kesempatan serupa.

(els)