Amerika Serikat dan Iran akhirnya meneken nota kesepahaman (MoU) untuk menghentikan perang dengan harapan dapat berlanjut ke perundingan damai permanen.
MoU akhirnya diteken setelah kedua negara berperang sejak 28 Februari lalu. Saat itu, AS dibantu Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran hingga membunuh mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Sejak itu, AS dan Iran saling balas serangan, dengan Teheran melancarkan serangan balasan menargetkan pangkalan militer AS di sejumlah negara Timur Tengah hingga perang meluas.
Serangkaian upaya perundingan juga terus diupayakan untuk menghentikan perang meski sempat mandek dan pertempuran terus berlanjut.
Namun, setelah serangkaian perundingan dibantu mediasi Pakistan akhirnya AS dan Iran sepakat meneken MoU di Swiss sebagai syarat melanjutkan perundingan damai dalam 60 hari ke depan.
Iran disebut menuai kemenangan strategis atas MoU dengan Amerika Serikat ini. Washington juga dicap tak rugi-rugi amat dalam kesepakatan tersebut.
Presiden AS Donald Trump dan pejabat lain mengeklaim MoU itu sebagai bentuk Iran menyerah tanpa syarat. Para analis padahal menilai kesepakatan ini banyak menguntungkan Teheran.
MoU itu mencakup penghentian pertempuran di seluruh front termasuk Lebanon, pencairan aset Iran yang dibekukan, pencabutan blokade militer AS di Selat Hormuz, hingga perizinan ekspor minyak mentah.
Sementara bagi AS, keuntungan itu mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, persediaan pasokan minyak, dan komitmen Iran tak membuat senjata nuklir.
Lalu, siapa pihak yang kalah telak atau bahkan hancur lebur dalam hal ini?
Pakar politik di Israel Danny Citrinowicz mengatakan kesepakatan tersebut jadi "bencana strategis" bagi pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Iran, kata dia, semakin mendominasi kawasan dan Israel kian terisolasi.
"Semuanya buruk, dan akan semakin buruk," ucap Citrinowicz, dikutip Al Monitor, pekan lalu.
Bukti Israel terjepit
Pengamat lain menyebut MoU itu berdampak ke citra Netanyahu yang selama ini disebut-sebut bisa mendikte AS.
Selama memimpin Israel, Netanyahu mendefinisikan diri sebagai orang yang bisa menjaga hubungan AS-Israel tetap sejalan dalam menghadapi iran.
Dengan mendapat dukungan dari anggota Partai Republik, dia juga memposisikan diri sebagai satu-satunya pemimpin Negeri Zionis yang bisa mempengaruhi presiden AS.
Di puncak kekuasaanya, para diplomat bahkan menyebut dia sebagai "pembisik AS." Namun, citra itu kini memudar.
"Kesepakatan AS-Iran adalah pukulan bagi Netanyahu. Tak cuma, dia kalah perang dengan Iran, tetapi kehilangan Trump sebagai teman," kata eks penasihat Netanyahu, Aviv Bushinsky, dikutip Reuters.
Tiga sumber diplomatik juga menyatakan kesepakatan AS-Iran yang memasukkan konflik Israel-Lebanon tanpa melibatkan mereka turut mengesampingkan posisi Netanyahu sekaligus Tel Aviv dari keputusan penting.
Selain itu, sejumlah sumber mengatakan AS bahkan menganggap Netanyahu sebagai penghalang di tengah keinginan Washington mengakhiri perang di Timur Tengah.
Trump bahkan pernah meminta Israel untuk menghentikan serangan ke Lebanon terutama ibu kota Beirut dan menghentikan lebih banyak korban tewas.
Trump bahkan pernah memberi sinyal siap mengesampingkan prioritas Israel demi kepentingan AS.
"Jika saya menyuruh Netanyahu untuk melakukan sesuatu, Netanyahu akan melakukannya," kata dia.
Netanyahu sampai saat ini ingin terus menekan Iran. Dia bahkan mengabaikan seruan Trump untuk berhenti menyerang Lebanon. Bagi pemimpin Negeri Zionis itu, Hizbullah dan Iran adalah ancaman nyata bagi Israel.
Arab makin menjauh dari Israel
Tak cuma dengan AS, negara-negara Arab juga mulai jaga jarak dengan Israel karena agresi di Jalur Gaza. Mereka terlihat lebih berhati-hati terutama soal potensi membuka hubungan dengan mereka sebagaimana dalam perjanjian Abraham Accords.
Salah satu pejabat Iran mengatakan upaya Netanyahu untuk memperluas perjanjian Abraham Accords terhambat. Dia juga mengeklaim kini negara-negara Arab berupaya mendapatkan tempat dalam kerangka kerja yang berpihak ke Teheran.
"Ini bukan sekadar kemenangan bagi Iran. Ini adalah kegagalan bagi Netanyahu ," kata pejabat itu.
Iran tak cuma bertahan, tetapi juga muncul sebagai pemain regional yang lebih berpengaruh.
Desakan Netanyahu mundur meluas
Selain tekanan dari luar, posisi PM Netanyahujuga makin tertekan dari berbagai arah di dalam pemerintahannya sendiri.
Gaungan protes hingga desakan mundur untuk Netanyahumakin nyaring terdengar.
Dalam acara kelulusan wisuda perwira militer Israel pada Kamis (25/6), kehadiran Netanyahu dalam acara itu disambut teriakan slogan-slogan anti-pemerintah.
Sejumlah peserta bahkan menyerukan agar Netanyahu mengundurkan diri saat sang PM menyampaikan pidato di acara tersebut.
Menurut laporan harian Yedioth Ahronoth, teriakan tersebut pecah ketika Netanyahu berpidato dalam upacara kelulusan perwira tempur di pangkalan militer Bahad 1. Pangkalan itu menjadi basis sekolah pendidikan perwira Angkatan Bersenjata Israel (IDF).
Aksi protes itu terjadi di tengah gelombang demonstrasi yang terus berlangsung di sejumlah kota di Israel menentang pemerintahan Netanyahu.
Para demonstran menuntut digelarnya pemilu lebih awal serta menyalahkan pemerintah atas kegagalan menangani peristiwa 7 Oktober 2023 yang memicu agresi brutal Israel ke Jalur Gaza Palestina dan dampaknya.
Selain itu, para demonstran juga menekan Netanyahu soal perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang kini dicap merugikan Tel Aviv menyusul deal-dealan Washington-Teheran untuk mengakhiri pertempuran.