SURVEI Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menunjukkan penurunan tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto dari sekitar 81 persen menjadi 51,1 persen dalam kurun waktu kurang dari satu tahun telah memantik berbagai reaksi.
Ada yang menganggapnya sebagai bukti kegagalan pemerintah. Ada pula yang buru-buru menolaknya dengan alasan survei hanyalah potret sesaat yang belum tentu mencerminkan keadaan sebenarnya.
Kedua respons tersebut sesungguhnya sama-sama keliru. Survei bukanlah vonis politik, tetapi juga bukan sesuatu yang dapat diabaikan begitu saja.
Dalam demokrasi modern, survei opini publik yang disusun dengan metodologi ilmiah merupakan salah satu instrumen paling penting untuk membaca denyut persepsi masyarakat.
Ia tidak menggantikan fakta objektif, tetapi merekam bagaimana rakyat merasakan kebijakan yang dijalankan pemerintah.
Jika demikian, maka penurunan kepuasan publik yang ditunjukkan SMRC sesungguhnya bukan sekadar persoalan angka. Ia adalah rapor politik yang diberikan rakyat kepada pemerintah.
Dan seperti layaknya rapor, ia bukan ditujukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk dibaca, dipahami, dan dijadikan bahan evaluasi.
Banyak orang membaca hasil survei sebatas naik atau turunnya popularitas seorang presiden. Padahal, yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan bukanlah popularitas, melainkan kepercayaan publik (political trust).
Dalam ilmu politik, kepercayaan merupakan modal pemerintahan yang jauh lebih berharga daripada besarnya koalisi, dominasi parlemen, ataupun tingginya elektabilitas.
Kekuasaan memang dapat diperoleh melalui pemilu. Namun, legitimasi hanya dapat dipertahankan apabila masyarakat terus meyakini bahwa pemerintah memiliki kemampuan, integritas, dan keberpihakan dalam mengelola negara.
Karena itu, angka 51,1 persen tidak boleh dibaca secara sederhana. Yang jauh lebih penting justru adalah tren penurunannya.
Dalam waktu kurang dari satu tahun, kepuasan publik terkoreksi sekitar 30 poin. Penurunan sebesar itu jelas tidak dapat dijelaskan hanya oleh fluktuasi statistik ataupun margin of error. Ia menunjukkan adanya perubahan persepsi yang cukup mendasar di tengah masyarakat.
Modal Kepercayaan
Ilmuwan politik David Easton membedakan dukungan publik menjadi dua bentuk, yakni specific support dan diffuse support.
Pertama adalah kepuasan terhadap kebijakan pemerintah pada periode tertentu. Kedua adalah kepercayaan yang lebih mendalam terhadap kemampuan pemerintah menjalankan negara.
Pada tahap awal, masyarakat biasanya hanya mengoreksi kebijakan tertentu. Namun, ketika berbagai persoalan terus muncul secara bersamaan, evaluasi publik perlahan bergeser. Yang dinilai bukan lagi satu program, melainkan kualitas pemerintahan secara keseluruhan.