Pusat Data di Luar Angkasa: Solusi Nyata atau Mimpi Belaka?

Pusat Data di Luar Angkasa: Solusi Nyata atau Mimpi Belaka?

tirto.id - Pusat data sudah menjadi kebutuhan tak terbantahkan di era yang serba terhubung seperti sekarang. Untuk setiap pertanyaan yang kita ajukan kepada ChatGPT, setiap video YouTube yang kita tonton, dan setiap dokumen yang kita unggah ke Google Drive, ada komputer-komputer canggih yang bekerja untuk kita. Komputer-komputer tersebut disimpan dalam sebuah gedung besar yang disebut sebagai pusat data. Semakin banyak data yang diproses secara daring, semakin besar pula kebutuhan akan pusat data tersebut, dan inilah yang sekarang sedang terjadi.

Di Amerika Serikat (AS) saat ini, ada lebih dari 4.000 pusat data. Angka ini sudah masuk taraf mengkhawatirkan karena Departemen Energi AS memperkirakan, dengan laju pertumbuhan pusat data seperti sekarang, pada 2028 nanti 12 persen konsumsi listrik nasional di sana hanya akan digunakan untuk menghidupi pusat-pusat data tersebut. Sebagai perbandingan, pada 2023 saja, angkanya sudah mencapai 4,4 persen dari total konsumsi listrik AS secara keseluruhan. Jika ditotal, konsumsinya mencapai 176 terawatt-jam atau setara dengan konsumsi listrik seluruh Republik Irlandia.

Masalah yang dihadirkan pusat data bukan cuma soal listrik tetapi juga air. Secara global, konsumsi air pusat data diproyeksikan mencapai antara 4,2 miliar hingga 6,6 miliar meter kubik per tahun pada 2027. Di Loudoun County, Virginia, konsumsi air pusat data sudah naik lebih dari dua kali lipat antara 2019 dan 2023. Ini belum termasuk masalah lain, yakni soal kebisingan, polusi udara dari generator diesel, dan kenaikan tagihan listrik warga sekitar yang bisa melonjak 9 s/d 25 persen pada 2040.

Pendek kata, pusat data adalah gangguan yang serius. Survei Heatmap News pada Mei 2026 menemukan bahwa tujuh dari sepuluh warga AS menolak pembangunan pusat data di sekitar tempat tinggal mereka. Padahal, pada Agustus 2025, rasio penolakan "baru" mencapai empat berbanding sepuluh. Hasilnya, lebih dari 100 usulan moratorium terhadap pembangunan pusat data baru telah diajukan di berbagai tingkat pemerintahan di AS.

Dari situ, muncul sebuah gagasan yang cukup ambisius. Oke, kalau pusat data memang sebegitu mengganggunya di Bumi, bagaimana kalau dikirim saja ke luar angkasa?

Elon Musk adalah sosok yang paling keras menyuarakan ide ini. Dalam sebuah presentasi di awal 2026, manusia terkaya di dunia ini berkata bahwa pusat data yang berbasis di luar angkasa akan menjadi cara termurah untuk melatih AI, dan ini bisa terjadi "hanya dalam dua hingga tiga tahun". Pada Januari 2026, SpaceX bahkan telah mengajukan permohonan ke Komite Komunikasi Federal AS (FCC) untuk membangun konstelasi hingga satu juta satelit yang akan menjadi fondasi orbit pusat data tersebut.

SpaceX bukan satu-satunya pemain. Pada November 2025, Google mengumumkan Project Suncatcher, sebuah proyek pusat data berbasis satelit bertenaga surya yang rencananya mulai diuji pada 2027. Blue Origin milik Jeff Bezos juga telah mengajukan rencana ke FCC untuk meluncurkan 51.600 satelit pusat data ke orbit rendah Bumi melalui Project Sunrise, dengan target deployment mulai kuartal keempat 2027. Startup seperti Starcloud saja bahkan sudah meluncurkan satelit uji coba dengan chip GPU Nvidia H100 menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX.

Ilustrasi Pusat Data di Luar Angkasa
Ilustrasi Pusat Data di Luar Angkasa. FOTO/iStockphoto

Di atas kertas, semua serba masuk akal ketika kita bicara pusat data di luar angkasa. Pertama, soal pasokan energi. Di orbit rendah Bumi, matahari bersinar hampir tanpa henti karena tidak ada awan dan tidak ada malam yang panjang. Ini berarti panel surya bisa bekerja hampir 24 jam sehari sehingga mampu menghasilkan energi yang nyaris tak terbatas tanpa perlu izin membangun pembangkit listrik baru, tanpa harus bersaing dengan warga sekitar soal tanah dan air, dan tanpa menaikkan tagihan listrik siapa pun di Bumi.

Pendinginan pun, secara teoretis, lebih mudah. Suhu luar angkasa bisa mencapai minus 270 derajat Celsius, hampir nol mutlak. Panas dari server bisa dilepaskan ke angkasa melalui panel radiator tanpa perlu menara pendingin yang konsumsinya setara dengan konsumsi 50.000 orang per hari.

Akan tetapi, bukan berarti menempatkan pusat data di luar angkasa tidak problematis.

Masalah pertama adalah biaya peluncuran. Saat ini, biaya meluncurkan muatan ke orbit menggunakan roket SpaceX yang sudah relatif murah (rata-rata industri ada di angka 8.000 dolar AS per kilogram) adalah sekitar 2.000 dolar AS per kilogram. Padahal, satu rak server pusat data bisa berbobot lebih dari 1.000 kilogram. Google memperkirakan biaya peluncuran perlu turun ke bawah 200 dolar per kilogram agar proyek Suncatcher masuk akal secara ekonomi, dan itu diperkirakan baru bisa terjadi di pertengahan 2030-an.

Masalah kedua adalah pendinginan yang paradoks. Meski luar angkasa dingin, ia juga hampa udara. Tidak ada udara berarti tidak ada cara untuk membuang panas secara konveksi seperti yang dilakukan kipas pendingin di Bumi. Panas harus dilepaskan melalui radiasi inframerah yang prosesnya lambat. Untuk membuang 10 megawatt panas saja dibutuhkan panel radiator seluas dua lapangan sepak bola. Panel radiator raksasa ini harus diluncurkan bersama panel surya raksasa sehingga, otomatis, akan menambah berat dan biaya secara signifikan.

Masalah ketiga adalah radiasi. Chip komputer modern tidak dirancang untuk bertahan di lingkungan radiasi kosmik yang keras di luar angkasa. Untuk membuat chip tahan radiasi, diperlukan proses rekayasa khusus yang tak hanya mahal tetapi juga bisa menurunkan performa komputasinya. Belum lagi, chip komputer biasanya diganti setiap tiga hingga lima tahun seiring perkembangan teknologi. Tentu saja, mengganti chip di orbit Bumi jauh lebih sulit dan mahal daripada di pusat data di permukaan Bumi.

Masalah keempat adalah soal lingkungan. Para peneliti di Saarland University, Jerman, menghitung bahwa, meski pusat data di orbit ditenagai energi surya, emisi karbonnya bisa tetap satu tingkat lebih tinggi daripada pusat data di Bumi jika dihitung secara menyeluruh, termasuk emisi dari peluncuran roket dan pembakaran komponen saat masuk kembali ke atmosfer. Pembakaran komponen saat re-entry juga menghasilkan polutan yang dapat merusak lapisan ozon.

Terakhir, yang tidak boleh dilupakan, adalah fakta bahwa orbit Bumi sejatinya sudah penuh sesak. Sebuah makalah yang diterbitkan di arXiv pada Desember 2025 memperkenalkan metrik yang mereka sebut "CRASH Clock", yaitu ukuran seberapa lama waktu yang tersedia sebelum terjadi tabrakan katastropik di orbit jika semua satelit tiba-tiba berhenti melakukan manuver penghindaran. CRASH Clock saat ini berada di angka 5,5 hari. Pada 2018, sebelum era mega konstelasi, angkanya adalah 164 hari. Ini berarti orbit Bumi sudah sangat padat, dan menambahkan ribuan hingga jutaan satelit pusat data baru ke dalamnya jelas akan memperbesar risiko tabrakan.

Fenomena yang paling ditakuti para ahli adalah Kessler Syndrome, yakni skenario di mana satu tabrakan menciptakan puing yang memicu tabrakan lain, dan seterusnya dalam reaksi berantai yang bisa membuat seluruh zona orbit tertentu tidak dapat digunakan selama puluhan tahun. Saat ini sudah ada sekitar 50.000 pecahan puing di orbit berukuran 10 sentimeter atau lebih, dan semuanya bergerak dengan kecepatan yang cukup untuk menghancurkan satelit apapun yang ditabraknya.

Jadi, apakah menempatkan pusat data di luar angkasa masih bisa dibilang ide bagus?

Ilustrasi Pusat Data di Luar Angkasa
Ilustrasi Pusat Data di Luar Angkasa. FOTO/iStockphoto

Para ahli cenderung sepakat bahwa menempatkan pusat data di luar angkasa memang masuk akal, tapi tidak untuk semua jenis pekerjaan komputasi dan tidak dalam waktu dekat.

Aplikasi yang paling masuk akal adalah pemrosesan data yang dihasilkan langsung di orbit, seperti citra satelit pengamatan Bumi, komputasi ilmiah untuk misi luar angkasa, atau pelatihan model AI skala besar yang tidak sensitif terhadap latensi. Untuk layanan yang membutuhkan respons cepat, seperti transaksi keuangan, streaming video, atau AI interaktif, pusat data di Bumi belum akan tergantikan.

Sementara itu Mark Weinzierl, ekonom Harvard yang meneliti bisnis berbasis luar angkasa, percaya bahwa suatu hari nanti ongkos membangun pusat data di Bumi akan semakin tinggi dan di saat bersamaan ongkos menempatkannya di luar angkasa akan semakin rendah, sehingga "dua kurva tersebut akan bertemu".

Weinzierl melihat, pusat data di Bumi telah menimbulkan banyak sekali kerusakan tetapi mengirimkannya ke luar angkasa belum masuk akal secara bisnis. Namun, apabila tren yang sudah ada sekarang terus berlanjut, menurutnya pertemuan dua kurva tadi bakal segera terjadi. Meski demikian, Weinzierl juga tidak menutup kemungkinan adanya perkembangan teknologi yang bisa menghasilkan chip yang tidak boros energi dan air.

Dengan kata lain, untuk saat ini, status dari wacana mengirim pusat data ke luar angkasa masih dalam tahap wait and see. Dan sampai ada solusi yang matang untuk mengatasi problem air, energi, dan polusi yang ditimbulkan pusat data, sayangnya, tak banyak yang bisa kita lakukan.