BENGKULU, KOMPAS.com - Linda Haryati, warga Jalan Flamboyan I, Kelurahan Kebun Kenanga, Kota Bengkulu, tak menyangka usaha makanan khas Bengkulu yang ia rintis sejak 2024 tumbuh membaik sejak memanfaatkan keberadaan media sosial.
Linda bukan saja penjual, melainkan pelestari makanan khas Bengkulu. Sejumlah makanan tradisional dia sediakan di Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) bernama Cena Bengkulu sejak 2024.
Makanan yang ia sediakan meliputi lepat binti, kue tat, bolu pisang, lempok durian, keripik pisang, juada keras, onde-onde, kembang goyang, dan keripik bawang.
"Kami memulai usaha sejak 2024 dengan menjual makanan tradisional Bengkulu untuk wisatawan dan oleh-oleh," ujar Linda memulai cerita, Selasa (28/7/2026).
Awalnya karyawan hanya tiga orang, keuntungan didapat hanya Rp 1 juta per bulan.
Sistem penjualan hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut.
"Berapa pun keuntungan kami bersyukur. Keuntungan yang didapat masih kecil karena promosi kami masih tradisional waktu itu belum manfaatkan teknologi, masih dari mulut ke mulut," kenangnya.
Pertumbuhan Meningkat
Seiring waktu, ia mengisahkan, Linda bertemu dengan tim dosen Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UM Bengkulu) melaksanakan program pengabdian masyarakat melalui pemanfaatan teknologi digital dalam pemasaran produk.
Program tersebut didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun 2026.
"Kami didampingi tim pengabdian masyarakat dari UM Bengkulu, banyak hal kami diajarkan mulai dari packaging hingga pemasaran digital," kenangnya.
Tim pengabdian UM Bengkulu terdiri para dosen Hafri Yuliani, Eceh Trisna Ayuh, dan Merta memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM agar mampu bertransformasi dari sistem pemasaran konvensional menuju usaha yang siap bersaing di era digital (digital-ready business).
Ketua Tim Pengabdian, Hafri Yuliani, mengatakan transformasi digital telah menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari oleh pelaku usaha, terutama UMKM yang ingin memperluas pasar dan meningkatkan daya saing.
"Kami bersama UMKM Cena Bengkulu bertemu sekitar Mei 2026, kami perkenalkan menggunakan media sosial Instagram untuk melakukan pemasaran dengan video dan foto-foto yang disebarluaskan dari akun Instagram Cena Bengkulu, kemudian iklannya dengan target yang terukur wilayah pemasaran Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel)," ungkap Hafri Yuliani.
Tak lama Mei beriklan, permintaan pesanan melonjak 100 persen dari Bengkulu dan wilayah Sumbagsel.
"Keuntungannya meningkat dari setiap bulan awalnya 1 juta, sekarang keuntungan setiap bulan bisa mencapai Rp 2,3 juta hingga Rp 3 juta," ujarnya.