Jurnalis Inggris Mulai Menyensor Liputan tentang Trump, Kekhawatiran Keselamatan Kian Batasi Kebebasan Pers

Jurnalis Inggris Mulai Menyensor Liputan tentang Trump, Kekhawatiran Keselamatan Kian Batasi Kebebasan Pers

JawaPos.com - Meningkatnya intimidasi terhadap jurnalis di Inggris memunculkan kekhawatiran baru mengenai kebebasan pers. Sejumlah wartawan mengaku mulai menghindari atau mengubah peliputan terhadap isu-isu tertentu, termasuk demonstrasi kelompok sayap kanan, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, hingga isu transgender karena khawatir terhadap keselamatan pribadi mereka. 

Kondisi tersebut dinilai memicu penyensoran diri (self-censorship) dan mempersempit ruang diskusi publik. Fenomena ini menjadi sorotan di tengah meningkatnya permusuhan terhadap media arus utama di berbagai negara Barat.

Ancaman yang sebelumnya lebih banyak berupa pelecehan daring kini dinilai berkembang menjadi intimidasi yang berpotensi membahayakan keselamatan fisik jurnalis, baik saat bertugas di lapangan maupun setelah identitas mereka tersebar di media sosial.

Dilansir dari The Guardian, Selasa (28/7/2026), temuan tersebut berasal dari investigasi yang didukung pemerintah Inggris mengenai keselamatan jurnalis. Penelitian yang dilakukan oleh Alma Economics itu merupakan salah satu kajian paling komprehensif mengenai keamanan jurnalis di Inggris, melibatkan survei terhadap 531 jurnalis serta 55 wawancara mendalam mengenai pengalaman mereka menghadapi ancaman selama bekerja.

Hasil investigasi menunjukkan hampir separuh responden mengaku kekhawatiran terhadap keselamatan memengaruhi kesediaan mereka meliput topik tertentu. Sementara itu, sekitar sepertiga responden mengatakan mereka telah mengubah cara maupun materi peliputan akibat meningkatnya risiko intimidasi. 

Sejumlah jurnalis bahkan mengungkapkan bahwa redaksi kini kerap mempertimbangkan apakah suatu liputan benar-benar "layak" diterbitkan jika konsekuensinya membahayakan keselamatan reporter.

Salah seorang jurnalis mengatakan, "Pasti ada saat-saat ketika muncul sebuah berita yang sebenarnya berkepentingan bagi publik dan layak diberitakan, tetapi kami berdiskusi secara terbuka mengenai apakah liputan itu benar-benar 'sepadan' dengan risikonya." 

Sementara jurnalis lain menggambarkan tekanan psikologis yang mereka alami dengan mengatakan, "Saya benar-benar terus melihat ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti saya dan memastikan tidak ada orang yang mulai meneriakkan sesuatu kepada saya."

Para peneliti menemukan persepsi yang meluas bahwa pelecehan terhadap jurnalis terus meningkat, terutama melalui media sosial. Namun, budaya di sebagian ruang redaksi justru dianggap mulai menormalisasi kondisi tersebut sebagai konsekuensi yang tidak terhindarkan dari meningkatnya polarisasi politik. Akibatnya, jurnalis sering kali diharapkan memiliki mental yang "tangguh" dan menerima intimidasi sebagai bagian dari pekerjaan.

JawaPos.com - Meningkatnya intimidasi terhadap jurnalis di Inggris memunculkan kekhawatiran baru mengenai kebebasan pers. Sejumlah wartawan mengaku mulai menghindari atau mengubah peliputan terhadap isu-isu tertentu, termasuk demonstrasi kelompok sayap kanan, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, hingga isu transgender karena khawatir terhadap keselamatan pribadi mereka. 

Kondisi tersebut dinilai memicu penyensoran diri (self-censorship) dan mempersempit ruang diskusi publik. Fenomena ini menjadi sorotan di tengah meningkatnya permusuhan terhadap media arus utama di berbagai negara Barat.

Ancaman yang sebelumnya lebih banyak berupa pelecehan daring kini dinilai berkembang menjadi intimidasi yang berpotensi membahayakan keselamatan fisik jurnalis, baik saat bertugas di lapangan maupun setelah identitas mereka tersebar di media sosial.

Dilansir dari The Guardian, Selasa (28/7/2026), temuan tersebut berasal dari investigasi yang didukung pemerintah Inggris mengenai keselamatan jurnalis. Penelitian yang dilakukan oleh Alma Economics itu merupakan salah satu kajian paling komprehensif mengenai keamanan jurnalis di Inggris, melibatkan survei terhadap 531 jurnalis serta 55 wawancara mendalam mengenai pengalaman mereka menghadapi ancaman selama bekerja.

Hasil investigasi menunjukkan hampir separuh responden mengaku kekhawatiran terhadap keselamatan memengaruhi kesediaan mereka meliput topik tertentu. Sementara itu, sekitar sepertiga responden mengatakan mereka telah mengubah cara maupun materi peliputan akibat meningkatnya risiko intimidasi. 

Sejumlah jurnalis bahkan mengungkapkan bahwa redaksi kini kerap mempertimbangkan apakah suatu liputan benar-benar "layak" diterbitkan jika konsekuensinya membahayakan keselamatan reporter.

Salah seorang jurnalis mengatakan, "Pasti ada saat-saat ketika muncul sebuah berita yang sebenarnya berkepentingan bagi publik dan layak diberitakan, tetapi kami berdiskusi secara terbuka mengenai apakah liputan itu benar-benar 'sepadan' dengan risikonya." 

Sementara jurnalis lain menggambarkan tekanan psikologis yang mereka alami dengan mengatakan, "Saya benar-benar terus melihat ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti saya dan memastikan tidak ada orang yang mulai meneriakkan sesuatu kepada saya."

Para peneliti menemukan persepsi yang meluas bahwa pelecehan terhadap jurnalis terus meningkat, terutama melalui media sosial. Namun, budaya di sebagian ruang redaksi justru dianggap mulai menormalisasi kondisi tersebut sebagai konsekuensi yang tidak terhindarkan dari meningkatnya polarisasi politik. Akibatnya, jurnalis sering kali diharapkan memiliki mental yang "tangguh" dan menerima intimidasi sebagai bagian dari pekerjaan.