JAKARTA, KOMPAS.com - Menjelang usia 499 tahun dan memasuki era 5 abad Jakarta, transportasi publik ibu kota berkembang pesat menjadi simbol modernisasi kota.
Namun bagi kelompok rentan, mulai dari lansia hingga penyandang disabilitas, kemajuan itu belum selalu berarti perjalanan yang mudah.
Sebab bagi mereka, transportasi publik bukan pilihan, melainkan kebutuhan.
Bagi Arif (32), penyandang disabilitas netra yang setiap hari menggunakan KRL untuk berangkat kerja ke kawasan Thamrin, transportasi publik adalah penopang utama mobilitasnya.
“Kalau enggak ada transportasi publik, mobilitas saya jauh lebih terbatas. Saya enggak mungkin mengandalkan kendaraan pribadi,” ujar Arif saat ditemui di Stasiun Sudirman, Kamis (25/6/2026).
Sebagai tunanetra, Arif sangat bergantung pada fasilitas aksesibilitas yang tersedia di stasiun.
Ia mengaku guiding block dan pengumuman audio sangat membantu untuk mengetahui arah pergerakan dan informasi perjalanan.
“Audio announcement penting banget buat tahu kereta tujuan mana yang datang,” kata dia.
Meski demikian, Arif menilai fasilitas tersebut belum selalu berfungsi optimal.
Hambatan sering kali justru datang dari perilaku pengguna lain.
“Guiding block kadang terhalang orang berdiri atau barang. Jadi akses yang harusnya membantu malah terhambat,” ujar dia.
Bagi Arif, infrastruktur saja tidak cukup untuk mewujudkan transportasi inklusif. Kesadaran publik menjadi faktor yang sama pentingnya.
“Saya berharap awareness masyarakat meningkat. Infrastruktur penting, tapi perilaku pengguna juga sama pentingnya,” kata dia.
Hal serupa dirasakan Maya (28), pengguna kursi roda yang rutin menggunakan KRL untuk mobilitas kerja dan kegiatan komunitas.
Menurut dia, kondisi layanan saat ini jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu.
“Lift sangat membantu pengguna kursi roda seperti saya,” ujarnya.
Namun, Maya menilai aksesibilitas belum merata dari awal hingga akhir perjalanan. Tantangan terbesar justru muncul saat berpindah antar-area.
“Kadang dari trotoar ke stasiun masih ada permukaan yang enggak rata atau ramp terlalu curam,” kata Maya.
Pengalaman Maya menunjukkan bahwa inklusivitas transportasi publik tidak bisa dinilai hanya dari fasilitas di dalam stasiun.
Jalur pejalan kaki, trotoar, hingga konektivitas menuju simpul transportasi juga menentukan.
“Saya ingin aksesibilitas dipikirkan dari awal perjalanan sampai akhir, bukan cuma di stasiun,” tuturnya.
Bagi lansia, perjalanan adalah soal kenyamanan dan rasa aman
Kelompok lansia menghadapi tantangan berbeda. Penurunan kondisi fisik membuat perjalanan yang bagi orang lain terasa biasa bisa menjadi aktivitas yang melelahkan.
Nurdin (67), pensiunan PNS yang kerap menggunakan MRT Jakarta untuk kontrol kesehatan dan bertemu keluarga, mengaku moda ini memberi pengalaman yang relatif nyaman.
“MRT sangat nyaman. Bersih, dingin, teratur,” ujar Nurdin saat ditemui di Stasiun MRT Dukuh Atas BNI.
Ia mengapresiasi fasilitas seperti lift, eskalator, dan kursi prioritas yang mempermudah mobilitas lansia.
“Lift dan kursi prioritas sangat membantu,” katanya.
Meski demikian, Nurdin menyoroti satu persoalan yang kerap luput dari perhatian: akses menuju stasiun.
Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.