KUPANG, KOMPAS.com – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), bersama tenaga kesehatan dan berbagai elemen masyarakat menggelar aksi menyalakan 1.000 lilin pada Sabtu (27/6/2026) malam.
Aksi ini untuk mengenang almarhumah dr Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr Icha di depan Kantor DPRD TTU.
Aksi solidaritas yang dimulai sekitar pukul 18.15 Wita itu diawali dengan pembacaan pernyataan sikap, doa bersama, penyalaan lilin, penyampaian orasi, serta diakhiri dengan bunyi sirene dari tiga mobil ambulans milik Rumah Sakit Leona Kefamenanu.
Koordinator aksi, Inadiana Fernandes, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk penghormatan sekaligus ungkapan duka cita atas kepergian dr Icha.
“Ini merupakan aksi solidaritas kami para dokter di TTU untuk mengenang kepergian dokter Icha. Aksi menyalakan 1.000 lilin ini juga sebagai bentuk keprihatinan atas kejadian yang menimpa beliau hingga akhirnya meninggal dunia,” ujar Inadiana.
Ia mengatakan, aksi tersebut tidak hanya diikuti anggota IDI Kabupaten TTU. Aksi ini juga mendapat dukungan dari berbagai profesi kesehatan, seperti perawat dan bidan.
“Bukan hanya dari IDI Kabupaten TTU, tetapi juga teman-teman perawat, bidan, dan berbagai profesi kesehatan lainnya yang bergabung bersama kami dalam aksi ini,” katanya.
Ditemukan meninggal di rumah orang tuanya
dr Icha ditemukan meninggal dunia di rumah orang tuanya di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, Jumat (26/6/2026).
Paman almarhumah, Fabianus Banase, mengatakan dr Icha ditemukan dalam kondisi tergantung di lantai dua rumah.
“Dia ditemukan tergantung di lantai dua sekitar pukul 17.55 Wita,” kata Fabianus.
Jenazah kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Kupang untuk menjalani pemeriksaan luar.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, lanjut Fabianus, dokter tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh almarhumah.
"Atas kesepakatan keluarga, kami memutuskan tidak dilakukan autopsi. Jenazah kemudian dibawa ke rumah duka di Baumata untuk disemayamkan,” ujarnya.
Fabianus menjelaskan, sebelum meninggal dunia, dr Icha sempat menjalani perawatan selama enam hari sejak 15 Juni 2026.
Setelah kondisinya membaik, ia diperbolehkan pulang pada 21 Juni 2026 dan melanjutkan pengobatan secara rawat jalan.