DIKIRA, memberhentikan pejabat yang terlibat dalam kasus penyimpangan dianggap sebagai penyelesaian. Tangkap orangnya, copot dari jabatan (atau mundur), lalu cari pengganti. Diduga sistem berjalan akan lebih baik.
Ternyata, ada persoalan yang lebih rumit dari sekadar mencopot pejabat. Di atas kertas, hal itu tampak sederhana.
Seorang pejabat melakukan penyimpangan. Evaluasi dilakukan. Bukti ditemukan. Atasan mengambil pena. Berhentikan dan cari pengganti.
Namun, tangan yang memegang pena kadang-kadang bergetar. Bukan karena kasihan. Ia sedang mengingat sesuatu.
Pejabat yang hendak diberhentikan itu telah terlalu lama berada di dalam lingkaran. Ia menghadiri rapat-rapat tertutup. Ia mengetahui bagaimana keputusan dibuat.
Ia tahu kasus mana yang diarahkan, siapa yang menitipkan, dan apa yang dibicarakan. Ia tahu perjalanan mana dan kegiatan apa yang sekadar dibuatkan laporan. Ia tahu anggaran apa yang dahulu disepakati bersama sambil mengatakan, “Ini sudah biasa.”
Pejabat yang diganti menyimpan terlalu banyak cerita. Maka, orang yang memberhentikannya ikut deg-degan.
Dalam sistem yang bersih, pemberhentian adalah tindakan administratif. Dalam sistem yang telah berlumpur, pemberhentian dapat berubah menjadi tindakan membuka kotak rahasia.
Orang yang diberhentikan mungkin tidak berkata apa-apa. Ia cukup tersenyum. Dan senyum itu sudah menjadi dokumen.
Di sinilah kekuasaan berubah menjadi permainan saling menyandera. Atasan mengetahui kesalahan bawahan. Bawahan mengetahui noda atasan.
Mereka tampak bekerja dalam struktur hierarkis, tetapi sesungguhnya hidup dalam keseimbangan ketakutan. Tidak ada yang benar-benar kuat. Semua hanya memiliki arsip tentang kelemahan orang lain.
Dalam Kubangan Lumpur
Betapa sulitnya mencari pejabat. Keadaannya seperti mencari sepotong kayu bersih di dalam kubangan lumpur yang pekat dan hitam.
Kita menarik satu batang. Kotor. Mengambil yang lain. Sama. Yang ketiga tampak sedikit lebih terang, tetapi setelah dibersihkan ternyata hanya karena lumpurnya belum mengering.
Masalahnya mungkin bukan lagi kayunya. Masalahnya adalah kubangannya. Korupsi yang terlalu lama hidup dalam sistem akan mengubah standar moral orang-orang di dalamnya.
Perbuatan yang dahulu dianggap memalukan perlahan disebut kebiasaan. Konflik kepentingan disebut jaringan. Nepotisme diberi nama kepercayaan. Pembagian proyek disebut menjaga keseimbangan. Uang terima kasih dianggap budaya.
Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.