JAKARTA, KOMPAS.com - Sejak mulai diberlakukan pada musim 2023, aturan batas minimal tekanan ban di MotoGP terus memicu perdebatan. Regulasi tersebut bahkan kerap memengaruhi hasil balapan karena pembalap yang melanggar bisa dijatuhi hukuman waktu setelah finis.
Memasuki era baru MotoGP pada 2027, Pirelli akan menggantikan Michelin sebagai pemasok ban tunggal. Pergantian itu memunculkan spekulasi bahwa aturan tekanan ban MotoGP akan dihapus. Namun, anggapan tersebut langsung dibantah oleh Pirelli.
Rumor Penghapusan Aturan Dibantah
"Kami selalu mengatakan bahwa kami akan tetap menerapkannya. Saya tidak tahu dari mana rumor sebaliknya berasal," jelas Giorgio Barbier, Direktur Balap Motor Pirelli, dikutip dari Motorsport.com, Jumat (17/7/2026).
Menurut Barbier, keputusan mempertahankan aturan tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap Michelin sebagai pemasok ban MotoGP saat ini. Ia menilai regulasi itu dibuat berdasarkan pertimbangan keselamatan.
"Kita harus sangat menghormati pemasok MotoGP saat ini (Michelin). Jika, setelah 11 tahun, mereka menetapkan aturan, bersama dengan Dorna, karena mereka percaya bahwa penggunaan tekanan rendah dapat menimbulkan bahaya, saya tidak dapat mengatakan bahwa bahaya tersebut tidak ada. Karena saya masih belum mengenal motor MotoGP secara mendalam," kata Barbier.
"Dari mana datangnya panas berlebih pada ban depan? Mungkin dari aerodinamika, dari cakram karbon, dari beberapa motor yang melaju di belakang dengan aerodinamika yang sangat memanaskan ban depan pembalap di belakang," ujarnya.
Barbier menjelaskan, karakteristik MotoGP berbeda dengan kejuaraan lain yang selama ini menggunakan ban Pirelli, seperti World Superbike dan Moto2. Karena itu, ia belum bisa memastikan apakah persoalan yang sama tidak akan muncul saat Pirelli mulai memasok ban untuk MotoGP.
“Dan itu adalah kondisi yang tidak saya alami di Superbike. Bukan pula situasi yang bisa saya uji di Moto2. Jadi, saya tidak bisa menyatakan bahwa Pirelli sama sekali tidak akan mengalami masalah ini,” katanya.
Alasan Keselamatan Jadi Pertimbangan
Saat ini, regulasi MotoGP mengharuskan tekanan ban depan berada di atas 1,80 bar dan ban belakang di atas 1,68 bar. Ketentuan tersebut harus dipenuhi selama 60 persen putaran pada balapan utama dan 30 persen putaran pada sprint race. Pelanggaran terhadap aturan itu akan berujung penalti 16 detik pada grand prix dan delapan detik pada sprint race.
Pirelli Masih Akan Melakukan Evaluasi
Meski demikian, Barbier menilai konstruksi ban Pirelli memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan Michelin sehingga berpotensi memberikan rentang kerja yang lebih fleksibel.
“Jelas bahwa kita memiliki konstruksi yang berbeda, material yang berbeda, tekanan operasi yang berbeda. Saya tidak percaya bahwa Pirelli bekerja lebih baik pada 1,4 daripada pada 2,0 bar. Oleh karena itu, kita mungkin tidak akan mengalami masalah seperti itu,” kata Barbier.
Meski optimistis, Pirelli belum ingin terburu-buru menghapus regulasi tekanan ban. Evaluasi baru akan dilakukan setelah perusahaan memiliki pengalaman langsung di MotoGP.
"Namun jika kita mengaitkannya dengan tekanan yang tepat untuk Pirelli, kita harus melihat apakah ini menjadi masalah ketika tekanan turun di bawah kisaran tersebut. Jadi, untuk saat ini, kita akan mempertahankan peraturan tersebut sambil berharap kita tidak perlu menerapkannya. Setelah itu kita akan memutuskan apakah akan memodifikasinya atau menghapusnya," ujar Barbier.
Barbier juga menilai ban Pirelli memiliki toleransi yang lebih baik terhadap perubahan tekanan dibandingkan ban yang saat ini digunakan di MotoGP.
"Ada satu hal yang saya lihat: pemasok saat ini memiliki sensitivitas yang sangat signifikan terhadap perubahan tekanan. Jika level tertentu terlampaui, ada risiko besar," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang