KOMPAS.com - Gemuruh stadion, gol spektakuler, hingga drama adu penalti menjadi daya tarik utama Piala Dunia 2026 yang kini memasuki fase semifinal. Namun, bagi sebagian orang, pertandingan sepak bola bukan hanya soal skor akhir.
Di balik layar, ada hal lain yang diamati dengan detail. Bukan hanya siapa yang mencetak gol atau memenangkan pertandingan, melainkan bagaimana pemain bergerak sepanjang laga.
Berapa kali mereka melakukan sprint, seberapa cepat melakukan akselerasi, bagaimana memenangkan duel fisik, hingga kemampuan tubuh memulihkan tenaga setelah melakukan aktivitas berintensitas tinggi.
Hal itulah yang menjadi perhatian pelatih fisik Timnas U20 Indonesia, Sofie Imam Faizal, saat mengikuti Piala Dunia 2026.
Di tengah kesibukannya, Sofie tetap menyempatkan diri menyaksikan sejumlah pertandingan sebagai bagian dari proses belajar. Baginya, turnamen sepak bola terbesar di dunia ini merupakan ruang observasi untuk memahami arah perkembangan permainan modern.
Bagi Sofie, Piala Dunia bukan hanya tempat melihat tim terbaik bersaing, tetapi juga kesempatan mempelajari bagaimana perubahan taktik memengaruhi kebutuhan fisik pemain.
Bukan lagi sekadar fit, tapi fit untuk cara bermain
Sofie menilai, sepak bola modern membuat aspek fisik tidak lagi bisa dipisahkan dari filosofi permainan sebuah tim.
Menurutnya, pertanyaan utama dalam pengembangan fisik pemain saat ini bukan lagi sekadar apakah seorang pemain memiliki kebugaran yang baik.
"Tuntutan taktis semakin menentukan tuntutan fisik. Saat ini bukan lagi pertanyaan 'seberapa fit pemain?', tetapi fit untuk bermain seperti apa?" ujar Sofie Imam kepada Kompas.com.
Ia menjelaskan, tim yang menerapkan gaya bermain seperti high pressing, counter-pressing, atau positional play memiliki tuntutan fisik yang berbeda.
Karena itu, program latihan tidak bisa dibuat secara umum. Latihan harus disesuaikan dengan karakter permainan yang ingin diterapkan oleh sebuah tim.
Sprint berulang jadi ciri sepak bola elite
Salah satu hal yang paling menarik perhatian Sofie dari pertandingan Piala Dunia 2026 adalah tingginya intensitas permainan.
Sepak bola modern kini semakin dipenuhi aksi eksplosif dalam waktu singkat, mulai dari sprint, akselerasi, deselerasi, hingga perubahan arah yang dilakukan berulang sepanjang pertandingan.
"Dominasi repeated high-intensity actions. Pertandingan elite semakin dipenuhi aksi sprint 10–30 meter, akselerasi, deselerasi, perubahan arah, dan recovery yang sangat singkat," kata Sofie.
Menurut mantan pelatih fisik Sabah FA tersebut, kondisi itu menunjukkan bahwa pemain elite tidak hanya harus memiliki kecepatan, tetapi juga kemampuan mengulangi aksi berintensitas tinggi tanpa mengalami penurunan performa.