Houthi Ancam Kepung Arab Saudi Buntut Serangan Bandara Sanaa

Houthi Ancam Kepung Arab Saudi Buntut Serangan Bandara Sanaa

pasukan Houthi di Kota Sanaa, Yaman (Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Houthi mengancam mengepung Arab Saudi dan menutup Selat Bab al-Mandeb sebagai balasan atas serangan udara ke Bandara Sanaa yang dilakukan pemerintah Yaman.
  • Serangan timbal balik terjadi setelah pesawat Iran gagal mendarat di Sanaa, memicu Houthi meluncurkan rudal dan drone ke Bandara Abha di selatan Arab Saudi.
  • PBB menggelar sidang darurat dan memperingatkan bahwa eskalasi konflik dapat menghancurkan gencatan senjata 2022 serta memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kelompok pemberontak Yaman, Houthi mengancam akan mengepung Arab Saudi sebagai pembalasan atas serangan ke Bandara Internasional Sanaa. Ancaman ini memicu kekhawatiran kembalinya perang terbuka di Yaman yang sempat mereda dalam empat tahun terakhir.

Ketegangan bermula saat sebuah pesawat Iran yang membawa delegasi Houthi gagal mendarat di Sanaa pada Senin (13/7/2026). Serangan udara ke landasan pacu tersebut diklaim oleh pemerintah Yaman, yang beralasan ingin mencegah masuknya pesawat Iran ke wilayahnya.

1. Houthi ancam kepung Saudi dan tutup Selat Bab al-Mandeb

Selat Bab al-Mandab
Selat Bab al-Mandab (Earth Science and Remote Sensing Unit, NASA Johnson Space Center, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pejabat biro politik Houthi, Mohammed al-Bukhaiti, menyatakan kelompoknya berhak menyerang balik bandara milik Arab Saudi. Langkah ini dianggap setimpal dengan upaya penutupan akses udara ke ibu kota Sanaa.

Houthi juga mempertimbangkan opsi untuk memblokade Selat Bab al-Mandeb di ujung selatan Laut Merah. Penutupan jalur perairan strategis ini berisiko memperparah krisis ekonomi global yang sedang terjadi. Al-Bukhaiti menegaskan bahwa kendali atas Selat Bab al-Mandeb adalah aset strategis yang bisa digunakan kapan saja.

"Kami akan menggunakan kartu Bab al-Mandeb terhadap negara-negara yang kerap menyerang kami," ujar al-Bukhaiti, dilansir Al Jazeera.

2. Houthi-Arab Saudi saling serang bandara

ilustrasi bandara. (unsplash.com/starocker)
ilustrasi bandara. (unsplash.com/starocker)

Krisis ini dipicu oleh kedatangan pesawat yang membawa delegasi Houthi dari upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Pemerintah Yaman menyerang landasan pacu Bandara Sanaa untuk mencegah pesawat tersebut mendarat.

Kementerian Pertahanan Yaman menuduh Houthi telah lebih dahulu melarang pesawat nasional Yaman mendarat di ibu kota. Mereka juga mengklaim Houthi telah mengizinkan pesawat Iran melanggar wilayah udara Yaman.

Pemerintah Yaman sebelumnya sudah menawarkan penerbangan alternatif menggunakan maskapai domestik Yemenia. Namun, pesawat Iran tersebut akhirnya memutar arah dan terpaksa dialihkan ke kota Hudaydah.

Sebagai balasan, Houthi menembakkan sejumlah rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) ke Bandara Internasional Abha di selatan Arab Saudi. Juru bicara koalisi pimpinan Saudi, Turki al-Maliki, menyatakan sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat rudal tersebut.

Sementara itu, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, memperingatkan seluruh maskapai penerbangan agar tidak melintasi wilayah udara Arab Saudi. Larangan ini berlaku hingga blokade terhadap Bandara Internasional Sanaa dicabut sepenuhnya.

3. PBB khawatir perang pecah lagi di Yaman

unjuk rasa pendukung Houthi di Yaman pada 2015
unjuk rasa pendukung Houthi di Yaman pada 2015 (Henry Ridgwell, VOA, Public domain, via Wikimedia Commons)

Insiden ini menjadi bentrokan paling serius antara Houthi dan pemerintah Yaman sejak beberapa tahun terakhir. Pengamat memperingatkan aksi saling serang ini bisa menghancurkan kerangka gencatan senjata tahun 2022.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) langsung menggelar sidang darurat untuk membahas krisis terbaru di Yaman. Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Timur Tengah, Asia, dan Pasifik, Khaled Khiari, mendesak semua pihak menahan diri dari tindakan sepihak yang berisiko merusak perdamaian.

Eskalasi konflik dikhawatirkan dapat membawa dampak buruk bagi krisis kemanusiaan di negara tersebut. Penutupan Bandara Sanaa membuat warga semakin menderita, terutama pasien yang kini harus menempuh perjalanan jauh dan berbahaya ke Aden untuk berobat.

Wakil Koordinator Bantuan Darurat PBB, Indrika Ratwatte, mengingatkan bahwa lebih dari 18 juta penduduk Yaman saat ini sedang kelaparan. Konflik lanjutan hanya akan memicu gelombang pengungsian baru dan membatasi akses bantuan kemanusiaan.

"Yaman dan kawasan yang lebih luas tidak mampu menanggung siklus eskalasi lainnya," tutur Khiari, dilansir Anadolu Agency.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.