KOMPAS.com - Kebaya menjadi salah satu warisan budaya yang memiliki beragam bentuk dan karakter di Indonesia.
Keberagaman tersebut menjadi sorotan dalam peringatan Hari Kebaya Nasional 2026 yang mengusung tema "Pesona Kebaya Indonesia untuk Dunia".
Tema itu disampaikan Kementerian Pariwisata melalui unggahan di akun Instagram resminya, @kemenpar.ri, pada Jumat (24/7/2026).
Dalam unggahannya, Kementerian Pariwisata menyebut kebaya bukan sekadar busana, tetapi juga bagian dari identitas bangsa yang menyimpan sejarah, filosofi, dan nilai budaya.
"Lebih dari sekadar busana, kebaya merupakan identitas bangsa yang menyimpan sejarah, filosofi, dan nilai budaya," tulis Kementerian Pariwisata.
Tema "Pesona Kebaya Indonesia untuk Dunia" juga memperlihatkan bagaimana kebaya memiliki karakter yang berbeda sesuai dengan latar budaya dan daerah tempatnya berkembang.
Hal tersebut dapat dilihat dari sejumlah kebaya daerah yang memiliki ciri khas masing-masing, mulai dari motif, warna, hingga bentuk potongannya.
Berikut tiga di antaranya.
-
Kebaya Encim Betawi, hasil akulturasi budaya
Salah satu kebaya yang diperkenalkan Kementerian Pariwisata adalah Kebaya Encim Betawi.
Kebaya ini disebut lahir dari akulturasi budaya Tionghoa dan Melayu di wilayah pesisir utara Jawa, khususnya Betawi dan Semarang.
Ciri khas Kebaya Encim terlihat dari hiasan bordir atau kerancang yang menggunakan motif flora dan fauna.
Warna-warna cerah juga menjadi bagian dari karakter kebaya tersebut.
Latar belakang akulturasi budaya membuat Kebaya Encim memiliki ciri yang berbeda dibandingkan kebaya yang berkembang di daerah lain.
-
Kebaya Rancongan Madura yang berpotongan ngepas
Dari Madura, terdapat Kebaya Rancongan yang memiliki karakter tersendiri. Kebaya ini memiliki potongan yang ketat atau ngepas di tubuh.