AS dan Iran Saling Gempur 8 Malam Berturut-turut, Harga Minyak Melonjak Tajam!

AS dan Iran Saling Gempur 8 Malam Berturut-turut, Harga Minyak Melonjak Tajam!

  • Amerika Serikat meluncurkan serangan militer ke Iran sejak Sabtu setelah insiden tewasnya dua personel militer di Yordania.
  • Konflik dipicu kegagalan gencatan senjata dan perebutan kendali Selat Hormuz yang mengancam stabilitas pasokan energi dunia.
  • Iran membalas serangan dengan drone ke pangkalan AS di Kuwait serta memicu lonjakan harga minyak mentah global.

Suara.com - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali berada di titik didih. Amerika Serikat (AS) melaporkan telah merampungkan gelombang serangan malam kedelapan secara berturut-turut terhadap sejumlah target di Iran.

Gempuran ini dilakukan sesaat setelah Washington mengumumkan tewasnya dua personel militer AS di Yordania. Di saat yang bersamaan, negara-negara sekutu AS di kawasan tersebut juga melaporkan adanya serangan balasan dari pihak Iran pada hari Minggu.

Intensitas baku tembak antara AS dan Iran ini semakin memburuk menyusul gagalnya kesepakatan gencatan senjata sementara yang ditandatangani sebulan lalu.

Perebutan kendali atas Selat Hormuz—jalur perairan vital yang menangani seperlima pasokan minyak global—kian memperdalam krisis, sehingga memunculkan kekhawatiran akan kembalinya perang terbuka secara menyeluruh (all-out hostilities).

Krisis bersenjata ini sendiri bermula pada 28 Februari lalu, ketika AS dan Israel melancarkan operasi militer dengan target melumpuhkan program nuklir, misil, dan jaringan proksi Iran di wilayah tersebut.

Terkait rangkaian gempuran terbaru yang dimulai pada Sabtu pukul 18.00 ET (22.00 GMT), Komando Pusat AS (US Central Command) memberikan pernyataan resminya. Serangan ini secara spesifik menargetkan fasilitas pengawasan pantai militer Iran dan sistem pertahanan udara.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali berada di titik didih. Amerika Serikat (AS) melaporkan telah merampungkan gelombang serangan malam kedelapan secara berturut-turut terhadap sejumlah target di Iran.

Gempuran ini dilakukan sesaat setelah Washington mengumumkan tewasnya dua personel militer AS di Yordania. Di saat yang bersamaan, negara-negara sekutu AS di kawasan tersebut juga melaporkan adanya serangan balasan dari pihak Iran pada hari Minggu.

Intensitas baku tembak antara AS dan Iran ini semakin memburuk menyusul gagalnya kesepakatan gencatan senjata sementara yang ditandatangani sebulan lalu.

Perebutan kendali atas Selat Hormuz—jalur perairan vital yang menangani seperlima pasokan minyak global—kian memperdalam krisis, sehingga memunculkan kekhawatiran akan kembalinya perang terbuka secara menyeluruh (all-out hostilities).

Krisis bersenjata ini sendiri bermula pada 28 Februari lalu, ketika AS dan Israel melancarkan operasi militer dengan target melumpuhkan program nuklir, misil, dan jaringan proksi Iran di wilayah tersebut.

Operasi Militer AS dan Persiapan Israel

Terkait rangkaian gempuran terbaru yang dimulai pada Sabtu pukul 18.00 ET (22.00 GMT), Komando Pusat AS (US Central Command) memberikan pernyataan resminya. Serangan ini secara spesifik menargetkan fasilitas pengawasan pantai militer Iran dan sistem pertahanan udara.

Komando Pusat AS menyatakan bahwa serangan tersebut dirancang "untuk lebih melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz dan secara cepat menghukum pasukan Korps Garda Revolusi Islam yang melancarkan serangan terhadap anggota layanan militer Amerika di Yordania."

Seiring dengan meningkatnya ekskalasi serangan ini, para pejabat Israel menyatakan bahwa militer mereka tengah bersiap untuk menerima lebih banyak armada pesawat pengisi bahan bakar (refuelling aircraft) dari AS guna mengantisipasi kemungkinan perluasan operasi militer terhadap Teheran.

  • Amerika Serikat meluncurkan serangan militer ke Iran sejak Sabtu setelah insiden tewasnya dua personel militer di Yordania.
  • Konflik dipicu kegagalan gencatan senjata dan perebutan kendali Selat Hormuz yang mengancam stabilitas pasokan energi dunia.
  • Iran membalas serangan dengan drone ke pangkalan AS di Kuwait serta memicu lonjakan harga minyak mentah global.

Merespon gelombang serangan tersebut, Iran tidak tinggal diam. Stasiun TV milik pemerintah Iran pada Minggu pagi melaporkan pengerahan serangan pesawat tak berawak (drone) yang menargetkan aset dan peralatan militer AS di Kamp Al-Adiri dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait.

Kedua pangkalan tersebut telah menjadi sasaran empuk rentetan serangan Iran terhadap aset AS dan sekutunya di kawasan Teluk sejak pekan lalu.

Laporan dari berbagai pihak turut mengonfirmasi meluasnya jangkauan proyektil:

  • Yordania: Sirine peringatan bahaya berbunyi setelah militer Israel mendeteksi peluncuran rudal dari Iran yang mengarah ke kota Aqaba, Yordania.
  • Bahrain: Stasiun TV pemerintah Bahrain melaporkan bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat serangan dari arah Iran pada hari Minggu.
  • Wilayah Iran: Laporan lokal menyebut AS telah melancarkan serangan di dekat wilayah Sirik (Iran Selatan) dan Shadegan (dekat perbatasan Irak). Organisasi Energi Atom Iran juga mengecam keras serangan terhadap situs pembangkit listrik tenaga nuklir yang tengah dibangun di wilayah Darkhovin.

Krisis Selat Hormuz dan Lonjakan Harga Minyak

Konflik ini juga merembet ke sektor lalu lintas pelayaran internasional. AS mengklaim tengah memberlakukan blokade laut terhadap Iran. Sebaliknya, Teheran menegaskan akan menargetkan kapal mana pun yang melanggar aturan navigasinya di Selat Hormuz.

Pada hari Minggu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran melaporkan adanya empat kapal berafiliasi dengan AS yang mencoba melintasi selat tersebut melalui rute tidak aman dengan mengabaikan peringatan IRGC. Dilaporkan bahwa dua kapal akhirnya membatalkan pelayaran, sementara dua lainnya terlibat dalam "kecelakaan", tanpa adanya rincian lebih lanjut.

Kekacauan yang berpotensi memicu gangguan pasokan energi dan inflasi global ini langsung memberikan respons kejut pada pasar komoditas. Harga minyak dunia terpantau meroket tajam pada penutupan perdagangan terbaru:

Minyak Mentah (Crude Oil): Mengalami kenaikan sebesar 3,54% ke level USD 82.490 per barel.

Minyak Brent: Melonjak sebesar 3,87% hingga menyentuh level USD 88.100 per barel.

Strategi Perang Donald Trump Blunder, Bikin Iran Makin Ngamuk Lalu AS Kesulitan Menghadapi
News | Minggu, 19 Juli 2026 | 14:57 WIB
Krisis Air Mengintai Timur Tengah Setelah Pasukan Iran Sasar Pembangkit Desalinasi Air Kuwait
News | Minggu, 19 Juli 2026 | 14:37 WIB
Pensiunan AU: Iran Akan Lebih Suka Pakai Rudal Jarak Jauh Serang Amerika
News | Minggu, 19 Juli 2026 | 13:24 WIB
Trump Luncurkan Serangan Udara, Iran Tebar Ancaman: AS Akan Rasakan Akibatnya
Bisnis | Minggu, 19 Juli 2026 | 11:59 WIB
Perang AS-Iran Memanas, Mojtaba Khamenei Ancam Beri Pelajaran Pahit yang Tak Terlupakan
News | Minggu, 19 Juli 2026 | 11:43 WIB
Korban Tewas Berjatuhan, Iran Tak Berpikir Buat Damai dengan Amerika
News | Minggu, 19 Juli 2026 | 11:15 WIB
AS dan Iran Saling Gempur 8 Malam Berturut-turut, Harga Minyak Melonjak Tajam!
Bisnis | Minggu, 19 Juli 2026 | 20:40 WIB
Mengapa Produk 'Tanpa Bahan Kimia' Kini Jadi Ladang Bisnis Menjanjikan
Bisnis | Minggu, 19 Juli 2026 | 20:33 WIB
Prediksi Pencetak Gol Final Piala Dunia 2026: Spanyol vs Argentina
Sulsel | Minggu, 19 Juli 2026 | 20:21 WIB
Perseteruan Wakil Rakyat, Polda Riau Turun Tangan Periksa CCTV
Riau | Minggu, 19 Juli 2026 | 20:19 WIB
Keciduk CCTV! Pria di Tambora Gasak Motor Teknisi WiFi yang Kuncinya Tergantung Demi Biaya Hidup
News | Minggu, 19 Juli 2026 | 20:15 WIB
Analisis Taktik Mendalam Final Piala Dunia 2026: Spanyol vs Argentina
Sulsel | Minggu, 19 Juli 2026 | 20:09 WIB
Beri Kail Bukan Ikan: Inspirasi Cinta Laura Biayai Kuliah Asisten Pribadinya
Your Say | Minggu, 19 Juli 2026 | 20:05 WIB
Tahan untuk Beli, Harga Emas Antam Berpotensi Naik Pekan Depan
Bisnis | Minggu, 19 Juli 2026 | 19:43 WIB
Tiki-Taka vs Sihir Messi: Prediksi Pertarungan Sengit Final Spanyol vs Argentina
Sulsel | Minggu, 19 Juli 2026 | 19:29 WIB
Bukan Sekadar Rapuh: Membedah Stigma "Generasi Strawberry" pada Gen Z